Jumat, 31 Januari 2014

sederhana

Masih sesederhana biasanya..
Tidak banyak kejujuran yang terungkap
Rasa yang menguap dalam ekspresi tak banyak arti, rasa yang ada tp tak punya nama atau tak termakna
Rasa yang sederhana tak menuntut banyak perkara
Tapi tak kunjung habis meski sudah banyak kata terucap

Menikmati awan
Sekali lagi dalam bentuk seni tanpa banyak perkara
Hanya pulasan putih sederhana di langit yang terpapar cahaya surya
angin mengarak, entah apa yang terarak, seiring daun kering yang rapuh menghias pohon tua nan kokoh
Luna duduk mengamati dari bawah naungannya..
Awan tetap disana,
Keduanya didalam dunia penuh rasa yang sederhana
Rasa yang ternyata terarak angin
Ke sana kemari makin memenuhi ruang-ruang kosong tanpa batas itu
Tapi sederhana
Tidak akan pernah mempersulitnya
Semoga

Rabu, 01 Januari 2014

hiasan

Biar jadi hiasan di luar jendela
Yang bisa kunikmati keindahannya
Tapi, berbatas kaca

biasa, manusia

Kapan terakhir kali aku ingat dosa
Yang ku ingat berkali kali hanya manusia..
Dan tidak lebih sering mengingat tuhan
Jika sudah begini, seakan tidak ada kata yang pantas untuk kembali.
Untungnya aku tak punya kuasa, jadi setidaknya aku tak perlu ragu untuk merasa malu, karena minta ini itu..
Iya, malu.

Aku keluarkan baju dari lemari karena sudah tak suka, suatu hari aku temukan lagi baju bekasku itu, aku pakai lagi, masukkan lemari lagi, jika sudah tak suka lagi keluarkan lagi.
Entah ini gangguan mental nomor berapa,
Bagaimana cara menyembuhkannya,

Malu dengan tingkah bodohku.