Tampilkan postingan dengan label Awan Luna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Awan Luna. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2014

Taman Antah Berantah


10 menit lagi, mereka harus pergi dari taman antah berantah ini, setidaknya hanya itu waktu yang disisakan oleh Kame jika menggunakan mesin waktunya. Waktu yang terbatas membuat mereka hanya dapat menggunakan mesin waktu itu untuk berwisata, memenuhi kebutuhan spiritual di tempat sepi, hanya mereka dan hamparan kehidupan alam tanpa prasangka manusia, menyatukan diri mereka yang berantakan di taman antah berantah yang steril dari polusi semesta, entah mereka tengah di planet mana, atau di waktu yang mana, tapi permukaan langit masih sama seperti yang tertampakkan di bumi selatan.

"kenapa aku pikir waktuku masih banyak?"
"mungkin karena kamu bisa melompat-lompat dari satu abad ke abad lainnya."

Luna malah tersenyum mendengar jawaban Awan.

Ini waktunya, Awan hanya mengamati saat Luna mulai menekan kedua kepalanya dengan jemari, lalu mulai menangis menitkkan air mata, Awan, masih melihat dengan sepenuhnya jiwa yang mulai terbawa, matanya menyorot dalam, kedalam diri, kedalam keteduhan, seperti melihat air yang jernih seiring air mata yang mulai menetes dari pelupuk mata Luna, basah.

Minggu, 27 April 2014

Sajak Pagi


Pagi hari menapakkan kaki di bumi, mengamati jejak manusia semalam dan malam-malam yang lalu, tapi jejakmu saat bersamaku semalam tak ada di sana, siapa yang menghapusnya?


Seseorang tengah mencoba melupakan, menghapus, untuk membunuhku yang tinggal di dirinya dalam sepersekian waktu hidupnya, aku tak pernah pergi, belum pernah mati, tapi bagimu aku bisa hilang begitu saja?


Diam pada pagi, saat venus masih menemani putri bulan yang menyabit diangkasa biru muda, awan putih saling susul di timur, matahari mengguyur sinar menghapus cahaya-cahaya mereka, yang mulai meredup, tapi masih cantik karena kilau sederhana dan semampunya itu justru terlihat seperti berlian, mahal. Tapi kemudian hilang.

Matahari selalu tau bulan ada di sana meskti tak bisa melihatnya, begitu pun venus, dan awan tetap menggeliat bebas di kala langit malam nan hitam menutup putihnya.

Sebeneranya mereka hanya saling mewakili demi tetap menghidupi bumi atas titah sang kuasa,tidak pernah saling membenci, tidak pernah saling iri, tidak pernah saling menghabisi. Hanya sesederhana itu, untuk selama waktu hidupnya.

Dan, kau?


26.4.1964
Vint.
NB : aku masih tinggal

Jumat, 18 April 2014

Bumi, Luna, Awan

Seakan hanya
Luna Awan dan Allah tuhannya
Cukup, untuk dua manusia yang saling melengkapi cinta atas Tuhan mereka

Berjalanlah di atas bumi, maka perhatikanlah..

Cukup pun tidak cukup, selama rotasi tak juga terhenti
Karena jika berpasrah itu cukup, maka rindu tidak akan jadi harapan
Mereka,
bersama alam dan manusia lainnya



Minggu, 13 April 2014

sederhana, lagi

"dan biarkan aku merasa tidak peduli pada sepersekian hati
Kamu, lebih jauh melanglang,
kita bertemu lagi di suatu siang nanti dalam ruang tak bersekat, terkungkum rasa tak berbatas"

.Luna.

tapi bumi tak sepenuhnya aman ketika mereka ingin menapak dengan tenang
ranjau di sana-sini, bukan daerah bekas perang, memang di sana sini mereka telah tertanam
rawan

sesekali Luna bangkit, berdiri, tidak santai lagi,
yang tak terbatas, liar kesana kemari, sesekali memang perlu di kuasai,
karena berpasrah itu seperti mengikat balon nitrogen pada pagar kayu di halaman,
hembusan angin di luar tidak dapat terelakkan
karena jika berpasrah itu cukup, maka kerinduan tidak akan jadi harapan

"ini, yang memenuhi ruang bumi, adalah setitik cintanya,
berarti telah kuasa, ketika kamu telah melihat Sang Maha Kuasa di sana"

.Awan.
sederhana, hakikatnya.
perih, sakit, senang, gila, jelmaan sang sederhana, untuk sebuah kehidupan yang hidup,
untuk kesederhanaan yang lebih sederhana.  




Rabu, 19 Maret 2014

Diam Saja

"Kepalaku sakit" Luna memecah hening, matanya menerawang, mengarungi dirinya yang lebih dalam, dalam di kebingungan, seperti penyelam tersesat di kedalaman lautan, tinggal berenang saja ke atas, tapi ia hanya berputar-putar. "Aku berurusan dengan banyak manusia..kepalaku sakit"

"Diam" Raut wajah Awan semakin tenang, tangannya tetap tak diam menggores kertas dengan untaian garis dengan sembarang tekanan, buangan energi jiwa.

Luna berjalan kemudian duduk di tengah sabana sambil menenteng gitanya. Tubuhnya lemas tersangga gitar di pangkuan, tangannya memetik begitu saja mengikuti nada yang diiyakan jiwa.

Dan sore itu, mereka selesaikan apa yang ingin diselesaikan jiwa, dalam tenang, dalam raga yang diam, tanpa ada banyak orang, tanpa lagi keluhan.

Diam saja ya.

Senin, 17 Maret 2014

Drama-Masa Lalu

"Aau!" Awan menyeringai memegang kepalanya yang kesakitan karena terantuk sesuatu yang keras. Entah batu atau apa yang terlempar tepat dikepalanya. Pagi masih belum sempurna, sial sudah menimpa, Awan menyusur pandangan ke rerumputan basah dan menemukan sebuah kertas yang setelah dibuka ternyata menggulung sebuah batu kerikil, sedang pada kertas itu sendiri terdapat tulisan 'heh, pagi!'.

"nakalnya kebangetan ni anak" gumam Awan lalu meletakkan batu dan kertasnya disamping ia duduk.

Beberapa detik kemudian Luna datang dari belakang dan segera duduk di samping Awan, memutar badan menghadap ke Awan. "pas kena kepala kan? canggih! ada yang bocor perlu di plester?"

"ga ada" kata Awan cuek sambil menekan tombol-tombol di kameranya.

"ga papa, biar drama" kata Luna sambil mengobrak abrik tas rajutnya, kemudian mengeluarkan sebuah plester, "Nih plester"

Rabu, 19 Februari 2014

Hanya Awan Luna

Awan pernah tidak datang untuk waktu yang lama,
saat itu, bisa kamu bayangkan apa yang bisa di lakukan Luna,
sehari-hari menyempatkan waktu melintas sabana,
meski tau awan tidak di sana, ia tetap ke sana, hanya untuk melihat jejaknya.
Luna tidak tau apakah ia sedih atau gelisah, atau memang ia baik-baik saja,
yang jelas tidak ada perasaan lega, karena tidak ada teman bicara, selain itu semuanya biasa, atau ia membuatnya biasa
ia tetap berusaha mengikat diri, awan pergi, bukan berarti ia tak utuh, ia utuh sejak awal ia mengerti bahwa ia hidup di atas bumi, paling tidak ia berdiri di atas kakinya sendiri dan mengumpulkan serpihan diri sendiri, dan awan tidak pernah mengurangi itu

jadi Luna tetap Luna, manusia tahun 60an yang tidak pernah menjelma menjadi lainnya walaupun tersasar, berada di waktu yang tidak semestinya. Meski waktu bisa jadi ilusi, tapi awan bukan ilusi, dan tidak pernah membawanya pada halusinasi apapun

Jadi begitu, Luna masih disana mengumpulkan serpihan diri seperti biasanya, menemui alam untuk menemukan dirinya,
tapi tetap tidak ada perasaan lega.

"dan biarkan Awan disana tetap menjadi Awan" katanya saat senja menjelang sambil berkemas memasukkan buku ke ransel rajutan, lalu berjalan pulang.

Langit gelap, saat kemudian bintang bermunculan di langit tak berawan, bukan, langit dengan sedikit awan, atau, langit dengan awan yang tak terlihat

Di sebuah pendopo pinggiran kota, Awan di sana, bicara tentang hakikat dunia kepada manusia lainnya, manusia dimasanya.
Sesaat awan diam, jika Luna disana dia mungkin kan berkata, "hei, wan, jangan coba-coba jadi bintang"

"tenang lun, aku dan kamu hanya luna dan awan, bukan bintang" katanya sambil menyisir langit di sekitar, mencari bulan.

Minggu, 16 Februari 2014

Mata Kita

Dan di mataku kamu lihat cahaya meski tidak ada hingar bingar di sekitarnya
Dan di mataku kamu lihat ketenangan sementara di luar aku tak mengumbar harapan
Dan di mataku kamu lihat aku tidak biasa meski peranku bukan apa apa

Karena aku hanya cahaya untukku, karena aku takut tersesat sendiri
Karena bukan tidak ingin berbagi hanya tidak ada yang perlu tau
Karena aku manusia yang di tempat tugaskan jadi aku tidak perlu menyulitkan diri mencari posisi tinggi untuk menempatkan diri kembali
Karena di atas tanahlah aku rasa sejatinya aku bisa melihat bumi, merasakan bumi, benar berjalan diatas bumi

Di matamu terlihat kamu
Dan
Kamu, awan.
Apa adanya kamu.
Apa yang ada di dirimu.

Dan meski sama kita berbeda..meski berbeda kita sama.
Jadi, awan, kamu mau membuktikan apa? kepada siapa?
Membuktikan sesuatu kepada manusia itu seperti tidak ada artinya.
Hmm, bener wan?

Mungkin.

Setauku, aku tau kamu juga bukan karena kamu ngapa-ngapa, karena kamu ada makanya aku tau kamu.
Dan, pada akhirnya kamu tetep ga perlu membuktikan apapun ke aku?

Tidak membuktikan sesuatu kepada orang lain itu bukan berarti tidak melakukan sesuatu untuk orang lain.

Iya, melakukan sesuatu untuk orang lain itu ga salah kan? Hanya saja kita ga perlu memaksakan orang itu untuk tau apa yang kita lakukan. Kalau kita membuktikan sesuatu ke orang lain, endingnya cuman dapet apa, pujian, tepuk tangan, dibalas, puas sebentar, bangga, tropi, bahagia, habis itu udah. Yaa, kaya membanggakan orang tua itu memang bagus, tapi ada yang lebih dari itu, bahkan ada yang lebih dari kebahagiaan.

Jiwa Awan_Luna

Awan,

bahkan kamu itu bukan belahan jiwa,

kita ada dalam satu jiwa

itulah mengapa, menangis di depanmu aku sudah tidak bisa

hanya bisa memeluk

agar jiwa tetap bertahan dalam satu, tidak tercecer, tidak terpecah, tidak berpisah

Awan,

Jumat, 31 Januari 2014

sederhana

Masih sesederhana biasanya..
Tidak banyak kejujuran yang terungkap
Rasa yang menguap dalam ekspresi tak banyak arti, rasa yang ada tp tak punya nama atau tak termakna
Rasa yang sederhana tak menuntut banyak perkara
Tapi tak kunjung habis meski sudah banyak kata terucap

Menikmati awan
Sekali lagi dalam bentuk seni tanpa banyak perkara
Hanya pulasan putih sederhana di langit yang terpapar cahaya surya
angin mengarak, entah apa yang terarak, seiring daun kering yang rapuh menghias pohon tua nan kokoh
Luna duduk mengamati dari bawah naungannya..
Awan tetap disana,
Keduanya didalam dunia penuh rasa yang sederhana
Rasa yang ternyata terarak angin
Ke sana kemari makin memenuhi ruang-ruang kosong tanpa batas itu
Tapi sederhana
Tidak akan pernah mempersulitnya
Semoga

Senin, 30 Desember 2013

Perahu Kertas Mereka

Luna mensejajarkan kedua kakinya, memanjang selaras tatanan kayu di dermaga kecil itu,
Gitar dipangkuan, jarinya memetik perlahan, hingga terdengar alunan merdu
Mengikuti sendu yang tampak sekilas-sekilas dari matanya yang sayu

Haaah
Desahan panjang terdengar
Itu Luna yang kesal karena salah satu senar belum sempat dipasang
Senar terakhir, senar paling sendu, tajam, sensitif, emosional, dan paling sering jadi korban kecerobohan

Dia menopang dagu di atas gitar yang sedang tidak bisa diandalkan

"Napa?" tanya Awan yang sejak tadi sibuk sendiri memainkan kertas, keduanya saling memunggungi.

"Ga ada, enak aja, menghela nafas, haaah.." jawab Luna sambil mengulanginya.

Awan berbalik, tidur tengkurap di atas tatanan kayu, tangannya meraih air danau, ternyata ia membuat sebuah perahu dari kertas, kemudian melabuhkannya ke danau.

Keduanya lalu diam, sama-sama menopang dagu memandangi perahu kertas yang semakin lalu.
Perahu kertas itu terombang ambing karena ombak kecil
Perahu kertas itu berubah arah karena tertiup angin
Berlayar tanpa navigasi
Tanpa destinasi
Tenggelam tanpa perkiraan

Mereka masih diam meski perahu sudah tenggelam
Sedang memastikan mereka akan berlayar di atas perahu yang benar

Jumat, 20 Desember 2013

Pesan Singkat Alam

Karena sore itu luna sedang sakit kepala
Sementara Awan sedang bosan dengan dunia
Makanya mereka bersepeda
Luna berdiri dibelakang berpegangan di pundak Awan yang tengah mengayuh sepeda perlahan..
Lucu sekali wajah mereka,
Jenuh, bosan, menganggang
Rupanya kefanaan dunia masih terbawa
Keduanya menikmati ekspresi hampa
Bibirnya sama sama kering tidak bicara apa-apa
Makanya intuisi membawa mereka ke tepi samudra, basah, gemericik air dan semilir angin,
Nyatanya tidak membuat mereka terbuai
irama alam menyertakan mereka dalam kehidupan,
Alam menyampaikan pesan kehidupan

Sabtu, 07 Desember 2013

Catatan Luna

Selalu hanya untuk aku dan awan
semua cerita yang ku buat, semua kisah yang tulis
semua tanaman hijau yang tertanam bebas di sepanjang perjalanan
hanya bisa untukku sendiri
yang selalu ku nikmati bersama awan
Taukah kalian aku sudah berusaha
untuk bisa menulis untuk yang lain
tapi,,

Tidak apa lah,
aku akan memebar benih bunga itu di sepanjang jalan,
meskipun aku lebih suka berjalan di atas daun kering yang berguguran di bawah pohon yang masih hijau dan rindang
kelak mungkin bunga-bunga merah yang akan memenuhi jalanan di belakang
tak apa kan, jika sekali-kali kamu temui tanah yang tak tertanam?
mungkin karena tanahnya asam
atau aku yang melamun saat lewat di sana, jadi aku lupa menanaminya
Selamat malam semuanya,
dari Luna yang sembunyi di balik Awan malam

Senin, 02 Desember 2013

Dunia Kita

"Hei, wan"
"Ha" sahut awan ringan.
"Liat anak yang duduk di sungai seberang"
Awan melihat anak laki-laki yang duduk cukup jauh sambil mengernyitkan dahi.
"dia dari tadi ngeliatin kita" kata Luna melanjutkan

"merhatiin juga km?" kata Awan menoleh, Luna pun menoleh melihat ke arahnya.
Luna diam, berpikir kenapa dia perlu peduli pada anak itu, lalu menjawab
"iya lah, dia duduk sendirian di situ, ga ada yang lain kan selain kita, sama dia, aneh."

Luna kembali menengok ke anak lelaki di seberang, dilihat berkali-kali anak itu tak bergeming, semakin aneh.
"iya, aku juga merhatiin," Awan mengubah posisi duduknya, bersila dan sedikit membungkuk, masih menggenggam ilalang kering.

Luna melirik Awan, berdecak kesal.
"biarin aja dia nikmatin kita" sahut Awan tidak peduli, tapi peduli.
Ya begitu cara Awan peduli, membiarkan orang lain belajar sendiri, agar mereka lebih mengenal diri mereka sendiri. Luna melihat Awan sambil senyum-senyum sendiri.
Luna kembali melihat anak lelaki di seberang, lalu berdiri, kemudian mengibas-ngibas roknya yang kotor dengan tangan.
"Mungkin dia pengen temanan sama kita."
Mata Awan mengikuti gerakan Luna, "terus?"

"disamperin?" kata Luna setengah bertanya kepada Awan
"Hm, oke.." suara Awan terkesan sabar dalam tarikan nafas panjang. Luna tersenyum senang.
Tetapi Luna diam saat Awan mulai melangkah,  Awan  membalik badannya, dengan gerakan khas menyangku tangan ke saku celana. Tidak bicara, hanya bertanya lewat tatapan mata "kenapa belum jalan juga, Luna?"

"Jika aku ingin mengenal orang itu, tujuannya adalah agar aku bisa mengenalkanmu padanya, biar dia tau, teman sepertimu itu ada,"

Awan diam "udah tau, jalan!"

Lelaki di seberang yang melihat Luna dan Awan menghampiri segera berdiri dan tersenyum.  

Awan dan Luna

Luna merenggangkan kedua tangannya, menatap kedua tangannya memanjang lurus ke kanan dan ke kiri, sambil menyipit memastikan semuanya sudah benar.
Lalu ia berlari, berlari ditengah sabana, sesukanya ia berlari, layaknya pesawat lepas landas, tapi ini bukan pesawat, ia mencoba untuk bisa terbang seelok elang.
Seakan telah mencapai angkasa, ia meliuk ke atas dan kebawah,
sesekali ia melompat, sepertinya bukan lagi elang,
entah apa, hanya mengikuti irama,
irama yang entah datangnya dari mana

Awan yang ikut singgah di tepi,
berdiri diam, kemudian menelanjangi kaki
tidak ke mana-mana, tangannya tetap di saku celana
angin berhembus mengibar rambutnya
matanya terpejam, merasakan nafasnya yang dingin dan dalam
tarian Luna, seperti sebuah alunan tak bersuara baginya
mengiringi pencarian menemui diri sendiri
entah bagaimana caranya mereka bisa bersenyawa

Sebagaimana Luna yang sedang di seberang,
menari-nari sendiri,
menemui dirinya, yang alami, sebagai bagian dari bumi
begitu saja caranya..
begitu saja cara mereka

Minggu, 01 Desember 2013

Sesak-Cekat

Saat nafasku mulai sesak itu justru saat yang paling menakutkan
Mencari kesempatan menata nafas
Menghentikan tarikan panjang disertai teriakan dalam
Jantung seperti berhenti sesaat, kemudian melemah setelahnya

Takut, tidak ingin sendiri
itu yang aku rasakan saat nafasku mulai sesak
Tidak ingin sendiri dalam keadaan mencekat itu
dalam keadaan dimana aku tidak mampu melakukan apa-apa
beberapa detik yang menakutkan
beberapa detik ketakutan
setelahnya kesedihan, hanya jika tidak ada yang kunjung datang

Apa itu artinya aku masih butuh orang?
Hanya untuk menemani
hanya untuk bertanya "kamu baik-baik saja?"
Apa manusia memang begitu?
Apa bisa jika tidak begitu?