Senin, 17 Maret 2014

Drama-Masa Lalu

"Aau!" Awan menyeringai memegang kepalanya yang kesakitan karena terantuk sesuatu yang keras. Entah batu atau apa yang terlempar tepat dikepalanya. Pagi masih belum sempurna, sial sudah menimpa, Awan menyusur pandangan ke rerumputan basah dan menemukan sebuah kertas yang setelah dibuka ternyata menggulung sebuah batu kerikil, sedang pada kertas itu sendiri terdapat tulisan 'heh, pagi!'.

"nakalnya kebangetan ni anak" gumam Awan lalu meletakkan batu dan kertasnya disamping ia duduk.

Beberapa detik kemudian Luna datang dari belakang dan segera duduk di samping Awan, memutar badan menghadap ke Awan. "pas kena kepala kan? canggih! ada yang bocor perlu di plester?"

"ga ada" kata Awan cuek sambil menekan tombol-tombol di kameranya.

"ga papa, biar drama" kata Luna sambil mengobrak abrik tas rajutnya, kemudian mengeluarkan sebuah plester, "Nih plester"


"drama apanya, itu kriminal namanya." Awan melempar pandangan ke Luna. Lalu terdiam dan meletakkan kameranya. "Sini!" katanya sambil merebut plester yang hendak dimasukkan Luna kembali ke dalam tas.

"Emang beneran ada yang sakit?" tanya Luna yang malah kebingungan selagi Awan membuka plester.

"Kepalamu yang sakit" kata Awan kemudian menempelkan plester tepat di tengah kening Luna.

"Heh, kalo gini kan ga drama, wan!"

"drama kok."

"ya udah gak drama"

Jika Awan sudah mengiyakan hal yang dipaksakan Luna, maka artinya Luna harus berhenti memaksa. Luna membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan sejajar dengan Awan berhadapan dengan rasi Orion yang terlihat jelas dari atas bukit saat beberapa jam menjelang kedatangan matahari, ia lalu memejamkan mata.

"the time has come" Luna bicara sendiri, matanya terpejam. Awan mengamati saat ia bicara, lalu mulai mengambil kamera, dan cepat mengalihkan pandangan ke Orion berada. Luna membuka mata, saat siratan garis putih pertama mulai terlihat mengacau pola Orion di langit kelam, kemudian diikuti beberapa siratan putih lain dalam interval yang tak pasti. Awan menurunkan kamera perlahan, mulai menikmati pemandangan langit yang jarang ditemuinya, meskipun hidup dalam di dunia yang sama, hanya mereka terlalu jauh.

"Bagus sih." kata Awan

"hm, bisa jadi tidak sebagus yang terlihat. Mungkin mereka punya kisah yang kita tidak ingin rasakan. Salah satu dari mereka mungkin sudah cacat karena tertabrak benda lain, atau mereka mungkin menghantam salah satu...mm,,mereka mungkin mengalami sesuatu di atas sehingga memberi efek buruk pada manusia, atau mereka sebenarnya tidak nyaman jika harus melintas dengan cepat seperti itu, atau sebentar lagi hidup mereka berakhir." jelas Luna, Awan mulai memperhatikan

"justru yang menakjubkan adalah mereka punya cerita, mereka bergerak melintasi banyak hal dan punya cerita, sebuah cerita yang kita mungkin tidak akan pernah mengalaminya, entah apa. Banyak hal terjadi di dunia, kejadian berbeda terjadi pada orang yang berbeda, atau benda yang berbeda, kejadian yang kemudian membuat hidup itu menjadi berbeda dari sebelumnya, kejadian-kejadian yang meruntut menjadi sebuah cerita, seperti di dalam novel. Setiap kisah itu diceritakan dengan cara yang berbeda, dengan bahasa yang berbeda, bahkan beberapa hanya tersimpan rapat, tapi tetap memiliki dinamika yang menakjubkan. Bahkan benda yang diam pun punya cerita, batu ini punya cerita" kata Luna sambil memungut batu yang digunakan untuk melempar Awan. "suatu saat mungkin aku akan tersenyum pada batu ini, bukan tersenyum pada batu sebenarnya, tapi tersenyum pada kenanganku dengan kamu. Seorang Awan juga punya cerita, aku melihatmu bukan sebagai sosok yang ada di depanku, tapi juga kumpulan pengetahuanku tentangmu, dari hal-hal yang telah lalu"

"Dan cerita itu bisa indah, keindahan pengetahuan, keindahan kebijaksanaan, karena cerita tentang masa lalu itu memberi tau kita sesuatu tentang masa depan" Awan menanggapi setelah sekiam lama diam

Luna tersenyum, lalu mengangguk sendiri dan bicara "iya, meteornya bagus."

Dan ketika ketika Luna sudah tersenyum sambil mengiyakannya, maka mereka hanya perlu menikmati yang tersisa selain bicara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar