Jumat, 23 Mei 2014

Genggam Saja

Gengam saja hati ini
Genggam sampai saya mati
Yang berkuasa atas kasih, satu satunya

Rabu, 14 Mei 2014

Man-Emon

Si Emon, pedofil melankoli yang selalu menulis dayeri setelah mencabuli korbannya. Apa mungkin dia bakal ditulis kaya gini.

"dear dayeri. hari ini aku seneng den lagi. aku dapet korban lagi, anaknya lucu, agak kebiji-bijian gitu deh. eh, udah dulu ya, aku mau jalan-jalan nyari korban lagi"

***

"yang jelas dia punya cerita di sana" kataku menimpali.

***

Kriminal selalu punya cerita, kenapa dia begitu, apa alasannya berbuat begitu, terlepas dari benar tidaknya perilaku mereka. Jika menyangkut perilaku manusia, aku terkadang tidak berfikir tentang salah benarnya, karena kita mengatakan hal yang sudah terlanjur terjadi atau tengah terjadi, aku malah berfikir tentang mengapa mereka begitu, mereka sedang sakit apa, bagaimana ceritanya, bagaimana mengobatinya, dan pertanyaan lainnya.

Pram & Ilyas

Saya semakin mengerti tentang perbedaan itu.
 
***

Di suatu pagi saya menemukan seorang yang jauh dari kata ideal bagi saya, perilakunya aneh, berlebihan untuk usianya yang paruh baya, sama sekali tidak terkesan bijaksana atau berwibawa. Saya memandang sebelah mata, meskipun saya tidak mengatakan keburukannya, tapi berita tentang jejak perilaku yang tidak terpuji darinya pernah saya dengar, saya diam saja ketika hari itu ada yang membahas tentang orang itu, dia, garong kelas teri dan pemabuk kecut itu namanya Pram.

Beberapa kali Pram seakan mencari perhatian, berbicara dengan lantang seakan menunjukkan bahwa ia orang penting dan pandai bergaul. Saya berusaha tidak menguping, atau menggubris, tapi saya cukup terganggu dengan orang seperti Pram itu, bagi saya orang yang low profile, tenang dan komunikatif itu mungkin lebih enak dilihat.

Penyair Gila

Mereka memang bukan manusia suci, tapi tak pantas juga melihat mereka hanya membicarakan tentang kotornya mereka. Mereka tau tuhannya, tau mulia dan cinta kasih tuhannya, tapi syariat tidak jadi pilihan utama. Sikapnya, jangan tanya, berusaha apa adanya, tapi, humanis? tidak juga. Bagi mereka hanya dengan menjadi bagian dari alam akan membuat mereka menjadi sebagai mana alam yang alami, mereka benci polusi, mereka benci modernisasi yang bagi mereka ternyata hanya barang basi,

Kamis, 08 Mei 2014

Sampahmu

Sampahmu, iya, sampahmu.
Sampah yang km buang di mukaku.

"Buang saja" kataku, "buang saja sebanyak yang kamu bisa"
Karena di satu waktu aku sangat ingin menjagamu tetap bersih.

Sampah itu, masih kamu simpan, kamu tampakkan di waktu-waktu tertenyu, "jangan, buang saja" kataku.
Semakin banyak yang terlihat, sebab semakin ingin aku menjaga, bujan untu siapa-siapa, untukmu saja. Bukan karenatidak ingin dekat dengan sampah, hanya sosok sepertinu terlalu indah untuk dikelilingi sampah.

Sampahmu, iya sampahmu.
Jangan sampai mati tertimbun sampahmu