Mereka memang bukan manusia suci, tapi tak pantas juga melihat mereka hanya membicarakan tentang kotornya mereka. Mereka tau tuhannya, tau mulia dan cinta kasih tuhannya, tapi syariat tidak jadi pilihan utama. Sikapnya, jangan tanya, berusaha apa adanya, tapi, humanis? tidak juga. Bagi mereka hanya dengan menjadi bagian dari alam akan membuat mereka menjadi sebagai mana alam yang alami, mereka benci polusi, mereka benci modernisasi yang bagi mereka ternyata hanya barang basi,
Mereka bicarakan dunia apa adanya, mengungkap banyak fakta, mensederhanakan dunia dengan gaya kritis mereka yang dianggap glamor. Entah lupa doa, atau bagi mereka tidak berguna, karena apa adanya, apapun diberiNya itu mereka terima saja, entah surga entah neraka. Tidak, bukan berarti mereka tak mengharap, siapa yang sudi tinggal di atas tumpukan sampah selain para pemulung dengan mata dewa, dewa 'entah apa'. Rindunya mereka pada masa akhirnya dikata tak terbatas, meski pada ini aku tidak benar-benar meyakininya. Harapan mereka untuk dunia yang lebih baik, ya, mereka sesekali bergerilya atasnya, atas abdi mereka pada hidupnya, atau apa istilahnya, kontrak dengan tuhannya.tuhan yang mana.
Ibadah terpenting bagi mereka adalah meniup kesadaran di tengkuk para pemabuk.
Hanya mereka pahlawan yang tersisa di tanah ini, yang sedia dilupakan ketika karakter busuk telah aus, bersama dengan mereka yang terberangus.
muliakah? semulia apa? mulia macam apa? siapa aku mempertanyakannya?
tadi pagi seorang diantara mereka berusaha menenangkanku yang gamang dengan berkata "percaya saja pada alam, dan solatlah biar hatimu tenang"
Aku..Penyair? Pemabuk? Penyakit?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar