Minggu, 12 April 2015

Satu makhluk di suatu waktu

Luna berteriak di tengah padang
tempat di manan angin dapat mengombak liar tanpa batasan, menelan luapan kemarahan manusia, satu makhluk yang tidak seberapa, dan tidak biasanya.

Memang bukan biasa, tidak seperti biasanya, tidak seperti ia yang hidup ditengah dunia nyata
angannya, ruang imajinasi itu lebih luas dari padang tempat ia berada sekarang
ia menggertak, bicara, berteriak, hanya dalam tulisan
ia mencaci, memaki, menaknai, dalam otak segenggam yang telah sekian puluh tahun melumat dunia
Menulis saja, sampai bengkak jari dan tangannya
Sakit,
Ia menangis tanpa air mata, karena bukan tugasnya menghujani bumi

malam mengenang teman, itu kala juni tanggal 9