Minggu, 27 April 2014

Sajak Pagi


Pagi hari menapakkan kaki di bumi, mengamati jejak manusia semalam dan malam-malam yang lalu, tapi jejakmu saat bersamaku semalam tak ada di sana, siapa yang menghapusnya?


Seseorang tengah mencoba melupakan, menghapus, untuk membunuhku yang tinggal di dirinya dalam sepersekian waktu hidupnya, aku tak pernah pergi, belum pernah mati, tapi bagimu aku bisa hilang begitu saja?


Diam pada pagi, saat venus masih menemani putri bulan yang menyabit diangkasa biru muda, awan putih saling susul di timur, matahari mengguyur sinar menghapus cahaya-cahaya mereka, yang mulai meredup, tapi masih cantik karena kilau sederhana dan semampunya itu justru terlihat seperti berlian, mahal. Tapi kemudian hilang.

Matahari selalu tau bulan ada di sana meskti tak bisa melihatnya, begitu pun venus, dan awan tetap menggeliat bebas di kala langit malam nan hitam menutup putihnya.

Sebeneranya mereka hanya saling mewakili demi tetap menghidupi bumi atas titah sang kuasa,tidak pernah saling membenci, tidak pernah saling iri, tidak pernah saling menghabisi. Hanya sesederhana itu, untuk selama waktu hidupnya.

Dan, kau?


26.4.1964
Vint.
NB : aku masih tinggal

Jumat, 18 April 2014

Bumi, Luna, Awan

Seakan hanya
Luna Awan dan Allah tuhannya
Cukup, untuk dua manusia yang saling melengkapi cinta atas Tuhan mereka

Berjalanlah di atas bumi, maka perhatikanlah..

Cukup pun tidak cukup, selama rotasi tak juga terhenti
Karena jika berpasrah itu cukup, maka rindu tidak akan jadi harapan
Mereka,
bersama alam dan manusia lainnya



Tawakal

Dan jika rasa tidak mampu lagi dikuasai, maka kembalilah "diri yang tidak mampu" kepada yang Maha Kuasa
Dan tawakal bukanlah mematikan rasa, untuk kembali fokus pada titahnya,
karena tawakal berarti menyerahkan segala rasa,
nyatanya rasa itu tercipta bersama manusia itu ada,
tidak bisa tau sebabnya apa
kenapa manusia seakan berkuasa diatas segala yang telah tertakdir
dan karena dari sanalah semua menjadi ada.
maka kembalikan saja

barangkali
karena tawakal itu bukan mematikan rasa
karena tawakal itu menyerahkan segala rasa, dengan penuh rasa
karena ketika berpasrah itu cukup, maka kerinduan tidak akan jadi harapan

Rabu, 16 April 2014

Cahaya

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun, yang tumbuh tidak hanya di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah memberi petunjuk kepada cahayaNya bagi orang-orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.
 
(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut namaNya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang,
 
orang yang tidak dilalaikan dengan perdaganyan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang.
 
............
 
(firman cahaya)

Minggu, 13 April 2014

Serangan Psikis dan Pingsan

Ini terapi kedua,
Aku pikir mind terapi kali ini akan sulit mencapi kata kondusif karena dilakukan di ruang terbuka dengan jumlah siswa yang cukup banyak. Bisa dibilang tidak cukup memadai.
Beberapa siswa justru sedang sakit, ada dua orang yang baru saja kecelakaan. yang satu jari-jarinya di perban, yang satu kakinya bermasalah entah kenapa, tidak terlihat karena ia memakai rok panjang.

Lagi. Biasanya peserta terapi adalah anak kelas 3 yang hendak menghadapi UN, tapi ini justru anak kelas 1. Terapis sempat bertanya-tanya, untuk apa anak-anak kelas 1 diberi terapi. Benar juga menurutku, karena menurutku terapi ini sifatnya jangka pendek, jika ingin modifikasi perilaku jauh lebih efektif jika dilakukan secara berkala dan dalam waktu yang cukup panjang. Jadi, terapi ini umumnya bertujuan agar mereka lebih bersemangat belajar, dengan memasukkan sugesti bahwa mereka tidak boleh menyia-nyiakan jasa orang tua yang sudah susah payah menyekolahkan mereka.

Pertama

Ini terapi pertama, yah, aku pernah mengalaminya, tapi sedikit berbeda. Jika mampu, aku hampir selalu menolak sugesti yang disengaja. Jadi meski sugesti itu aku makan, aku menahan, lalu menyangkal. Aku sendiri masih bertanya-tanya terapi nanti akan jadi seperti apa, ya kan pertama kalinya aku terlibat sebagai penyelenggara.
"mungkin nanti akan ada yang kejang, ada yang mengamuk, ada yang berteriak."

Lalu, aku diberi tahu beberapa langkah praktis sederhana untuk menangani insiden-insiden itu jika mungkin terjadi. Grogi itu hanya sedikit, karena benar, situasi ini sulit aku membayangkan.

Dan semua dimulai. Manusia-manusia itu tidur, menangis, menjerit-jerit memekakan telinga, mungkin aku sedikit terganggu dan cemas, sepanjang terapi aku gigit jari melihat orang menangis dan berteriak.
Fuh,.
Tapi sejauh ini tidak ada hal parah terjadi, tangis, haru, pelukan, emosional.
Aku melihat semuanya dari luar, sama sekali tidak tersentuh emosi mereka. Aku aneh.
Tapi baiklah, cukup menarik, sebenernya mulai menarik.

Dongeng

Ketika aku mulai mencintai dongeng
Sejak itu aku memilih peran, untuk ku libatkan dalam sebuah cerita
Mengenai alurnya?
Tidak, aku memang tidak berkuasa, tapi, sejauh ini semua bisa dimainkan,
alurrnya, perannya,
Imajinasi, asosiasi, dengan segala realitas yang ada, dengan segenap kewarasan yang tersisa,
dengan sisi ketenangan yang aku punya, aku hanya bersiap untuk segala kemungkinan
Dongeng ini,
sesekali mengajakku berfikir lebih bijaksana untuk rela, "oo, jadi begini ceritanya, baiklah", karena aku ingat bukan kuasaku atas alurnya, apalagi berkuasa atas perannya selain aku
Rupanya ini 'cara'ku menjalani hidup, jadi, iya saja 

Takut

Mentok,
bodoh, ketika takut pada perkiraan kita sendiri
ketakutan itu melelahkan, menyita energi jiwa raga
untuk sesuatu yang belum kita hadapi,
belum tentu kita jalani

Temanku

Karena aku kalah,
di kewarasanku, dia jauh lebih waras,
atas kesimpulanku sendiri, dengan mengabaikan segala protesnya
Ketika bicara, ada satu titik dimana aku tidak melihatnya sebagai manusia
ruh saja, ciptaan tuhan, bagian alam,
yang menginformasikan sebuah ilmu kehidupan
semoga tetap terjaga, dijaga, untuknya juga, temanku yang disana
yang kadang bukan manusia itu

sederhana, lagi

"dan biarkan aku merasa tidak peduli pada sepersekian hati
Kamu, lebih jauh melanglang,
kita bertemu lagi di suatu siang nanti dalam ruang tak bersekat, terkungkum rasa tak berbatas"

.Luna.

tapi bumi tak sepenuhnya aman ketika mereka ingin menapak dengan tenang
ranjau di sana-sini, bukan daerah bekas perang, memang di sana sini mereka telah tertanam
rawan

sesekali Luna bangkit, berdiri, tidak santai lagi,
yang tak terbatas, liar kesana kemari, sesekali memang perlu di kuasai,
karena berpasrah itu seperti mengikat balon nitrogen pada pagar kayu di halaman,
hembusan angin di luar tidak dapat terelakkan
karena jika berpasrah itu cukup, maka kerinduan tidak akan jadi harapan

"ini, yang memenuhi ruang bumi, adalah setitik cintanya,
berarti telah kuasa, ketika kamu telah melihat Sang Maha Kuasa di sana"

.Awan.
sederhana, hakikatnya.
perih, sakit, senang, gila, jelmaan sang sederhana, untuk sebuah kehidupan yang hidup,
untuk kesederhanaan yang lebih sederhana.