Luna mensejajarkan kedua kakinya, memanjang selaras tatanan kayu di dermaga kecil itu,
Gitar dipangkuan, jarinya memetik perlahan, hingga terdengar alunan merdu
Mengikuti sendu yang tampak sekilas-sekilas dari matanya yang sayu
Haaah
Desahan panjang terdengar
Itu Luna yang kesal karena salah satu senar belum sempat dipasang
Senar terakhir, senar paling sendu, tajam, sensitif, emosional, dan paling sering jadi korban kecerobohan
Dia menopang dagu di atas gitar yang sedang tidak bisa diandalkan
"Napa?" tanya Awan yang sejak tadi sibuk sendiri memainkan kertas, keduanya saling memunggungi.
"Ga ada, enak aja, menghela nafas, haaah.." jawab Luna sambil mengulanginya.
Awan berbalik, tidur tengkurap di atas tatanan kayu, tangannya meraih air danau, ternyata ia membuat sebuah perahu dari kertas, kemudian melabuhkannya ke danau.
Keduanya lalu diam, sama-sama menopang dagu memandangi perahu kertas yang semakin lalu.
Perahu kertas itu terombang ambing karena ombak kecil
Perahu kertas itu berubah arah karena tertiup angin
Berlayar tanpa navigasi
Tanpa destinasi
Tenggelam tanpa perkiraan
Mereka masih diam meski perahu sudah tenggelam
Sedang memastikan mereka akan berlayar di atas perahu yang benar
Senin, 30 Desember 2013
Jumat, 20 Desember 2013
Pesan Singkat Alam
Karena sore itu luna sedang sakit kepala
Sementara Awan sedang bosan dengan dunia
Makanya mereka bersepeda
Luna berdiri dibelakang berpegangan di pundak Awan yang tengah mengayuh sepeda perlahan..
Lucu sekali wajah mereka,
Jenuh, bosan, menganggang
Rupanya kefanaan dunia masih terbawa
Keduanya menikmati ekspresi hampa
Bibirnya sama sama kering tidak bicara apa-apa
Makanya intuisi membawa mereka ke tepi samudra, basah, gemericik air dan semilir angin,
Nyatanya tidak membuat mereka terbuai
irama alam menyertakan mereka dalam kehidupan,
Alam menyampaikan pesan kehidupan
Sementara Awan sedang bosan dengan dunia
Makanya mereka bersepeda
Luna berdiri dibelakang berpegangan di pundak Awan yang tengah mengayuh sepeda perlahan..
Lucu sekali wajah mereka,
Jenuh, bosan, menganggang
Rupanya kefanaan dunia masih terbawa
Keduanya menikmati ekspresi hampa
Bibirnya sama sama kering tidak bicara apa-apa
Makanya intuisi membawa mereka ke tepi samudra, basah, gemericik air dan semilir angin,
Nyatanya tidak membuat mereka terbuai
irama alam menyertakan mereka dalam kehidupan,
Alam menyampaikan pesan kehidupan
Kamis, 19 Desember 2013
pesta dansa istana
Jadi pangeran, kenapa km sangat suka menggelar pesta dansa
Mengundang putri putri jelita dari penjurudunia
Hm, membosankan
Saat aku mengamati para putri melangkah ke istanamu..
Saat itu senyum sopan membingkai topeng kebangsawananmu
Sebegitu pentingkah semua polesan palsu,
Manusia pencari bahagia,
Dalam teropongku, kalian seperti kumpulan serdadu abu-abu
Sang pangeran pencari makna,
Mungkin sebab tertutup kelambu kencanaku, keyakinan d balik kepalsuan senyum itu,
Masih samar bagiku
Catatan putri di dalam kereta kencana, sembari mempersiapkan sepatu dansanya
Mengundang putri putri jelita dari penjurudunia
Hm, membosankan
Saat aku mengamati para putri melangkah ke istanamu..
Saat itu senyum sopan membingkai topeng kebangsawananmu
Sebegitu pentingkah semua polesan palsu,
Manusia pencari bahagia,
Dalam teropongku, kalian seperti kumpulan serdadu abu-abu
Sang pangeran pencari makna,
Mungkin sebab tertutup kelambu kencanaku, keyakinan d balik kepalsuan senyum itu,
Masih samar bagiku
Catatan putri di dalam kereta kencana, sembari mempersiapkan sepatu dansanya
Sabtu, 07 Desember 2013
Identifikasi Rasa
taukah lu?
seringkali km digelayuti perasaan yang seakan sulit dihentikan
memenuhi otak, tapi seringkali kita menyebutnya "menyesak di dada"
sebenernya di otak ya, kenapa sesaknya di dada
nalarnya, semua hal berproses,
namun tidak semua hal kita sadari di tiap prosesnya.
karena terlalu menikmati atau tersiksa dengan prosesnya, di akhir baru kita bertanya "kenapa aku begini ya?"
seperti kehilangan data
omission, sebenarnya bukan datanya yang hilang
hanya datanya tidak tercermati,
meskipun ada
dan sebenarnya bisa dibaca
lalu apa?
ya, tidak perlu berlebihan ketika menghadapi perasaan yang 'berlebihan' itu
telusuri saja perlahan,
dan kamu akan temukan jawabannya
"kenapa aku begini?"
lalu, tentukan sikap bijaksana
mungkin begitu
cara mengidentifikasi rasa
sekali lagi, dan selalu, lagi dan lagi, "Mungkin"
karena kepastian bukan aku yang menentukan.
saat aku sedang merasa _berlebihan_
*nggaknyante*
kemudian berusaha
*nyante*
seringkali km digelayuti perasaan yang seakan sulit dihentikan
memenuhi otak, tapi seringkali kita menyebutnya "menyesak di dada"
sebenernya di otak ya, kenapa sesaknya di dada
nalarnya, semua hal berproses,
namun tidak semua hal kita sadari di tiap prosesnya.
karena terlalu menikmati atau tersiksa dengan prosesnya, di akhir baru kita bertanya "kenapa aku begini ya?"
seperti kehilangan data
omission, sebenarnya bukan datanya yang hilang
hanya datanya tidak tercermati,
meskipun ada
dan sebenarnya bisa dibaca
lalu apa?
ya, tidak perlu berlebihan ketika menghadapi perasaan yang 'berlebihan' itu
telusuri saja perlahan,
dan kamu akan temukan jawabannya
"kenapa aku begini?"
lalu, tentukan sikap bijaksana
mungkin begitu
cara mengidentifikasi rasa
sekali lagi, dan selalu, lagi dan lagi, "Mungkin"
karena kepastian bukan aku yang menentukan.
saat aku sedang merasa _berlebihan_
*nggaknyante*
kemudian berusaha
*nyante*
Catatan Luna
Selalu hanya untuk aku dan awan
semua cerita yang ku buat, semua kisah yang tulis
semua tanaman hijau yang tertanam bebas di sepanjang perjalanan
hanya bisa untukku sendiri
yang selalu ku nikmati bersama awan
Taukah kalian aku sudah berusaha
untuk bisa menulis untuk yang lain
tapi,,
Tidak apa lah,
aku akan memebar benih bunga itu di sepanjang jalan,
meskipun aku lebih suka berjalan di atas daun kering yang berguguran di bawah pohon yang masih hijau dan rindang
kelak mungkin bunga-bunga merah yang akan memenuhi jalanan di belakang
tak apa kan, jika sekali-kali kamu temui tanah yang tak tertanam?
mungkin karena tanahnya asam
atau aku yang melamun saat lewat di sana, jadi aku lupa menanaminya
Selamat malam semuanya,
dari Luna yang sembunyi di balik Awan malam
semua cerita yang ku buat, semua kisah yang tulis
semua tanaman hijau yang tertanam bebas di sepanjang perjalanan
hanya bisa untukku sendiri
yang selalu ku nikmati bersama awan
Taukah kalian aku sudah berusaha
untuk bisa menulis untuk yang lain
tapi,,
Tidak apa lah,
aku akan memebar benih bunga itu di sepanjang jalan,
meskipun aku lebih suka berjalan di atas daun kering yang berguguran di bawah pohon yang masih hijau dan rindang
kelak mungkin bunga-bunga merah yang akan memenuhi jalanan di belakang
tak apa kan, jika sekali-kali kamu temui tanah yang tak tertanam?
mungkin karena tanahnya asam
atau aku yang melamun saat lewat di sana, jadi aku lupa menanaminya
Selamat malam semuanya,
dari Luna yang sembunyi di balik Awan malam
Senin, 02 Desember 2013
Dunia Kita
"Hei, wan"
"Ha" sahut awan ringan.
"Liat anak yang duduk di sungai seberang"
Awan melihat anak laki-laki yang duduk cukup jauh sambil mengernyitkan dahi.
"dia dari tadi ngeliatin kita" kata Luna melanjutkan
"merhatiin juga km?" kata Awan menoleh, Luna pun menoleh melihat ke arahnya.
Luna diam, berpikir kenapa dia perlu peduli pada anak itu, lalu menjawab
"iya lah, dia duduk sendirian di situ, ga ada yang lain kan selain kita, sama dia, aneh."
Luna kembali menengok ke anak lelaki di seberang, dilihat berkali-kali anak itu tak bergeming, semakin aneh.
"iya, aku juga merhatiin," Awan mengubah posisi duduknya, bersila dan sedikit membungkuk, masih menggenggam ilalang kering.
Luna melirik Awan, berdecak kesal.
"biarin aja dia nikmatin kita" sahut Awan tidak peduli, tapi peduli.
Ya begitu cara Awan peduli, membiarkan orang lain belajar sendiri, agar mereka lebih mengenal diri mereka sendiri. Luna melihat Awan sambil senyum-senyum sendiri.
Luna kembali melihat anak lelaki di seberang, lalu berdiri, kemudian mengibas-ngibas roknya yang kotor dengan tangan.
"Mungkin dia pengen temanan sama kita."
Mata Awan mengikuti gerakan Luna, "terus?"
"disamperin?" kata Luna setengah bertanya kepada Awan
"Hm, oke.." suara Awan terkesan sabar dalam tarikan nafas panjang. Luna tersenyum senang.
Tetapi Luna diam saat Awan mulai melangkah, Awan membalik badannya, dengan gerakan khas menyangku tangan ke saku celana. Tidak bicara, hanya bertanya lewat tatapan mata "kenapa belum jalan juga, Luna?"
"Jika aku ingin mengenal orang itu, tujuannya adalah agar aku bisa mengenalkanmu padanya, biar dia tau, teman sepertimu itu ada,"
Awan diam "udah tau, jalan!"
Lelaki di seberang yang melihat Luna dan Awan menghampiri segera berdiri dan tersenyum.
"Ha" sahut awan ringan.
"Liat anak yang duduk di sungai seberang"
Awan melihat anak laki-laki yang duduk cukup jauh sambil mengernyitkan dahi.
"dia dari tadi ngeliatin kita" kata Luna melanjutkan
"merhatiin juga km?" kata Awan menoleh, Luna pun menoleh melihat ke arahnya.
Luna diam, berpikir kenapa dia perlu peduli pada anak itu, lalu menjawab
"iya lah, dia duduk sendirian di situ, ga ada yang lain kan selain kita, sama dia, aneh."
Luna kembali menengok ke anak lelaki di seberang, dilihat berkali-kali anak itu tak bergeming, semakin aneh.
"iya, aku juga merhatiin," Awan mengubah posisi duduknya, bersila dan sedikit membungkuk, masih menggenggam ilalang kering.
Luna melirik Awan, berdecak kesal.
"biarin aja dia nikmatin kita" sahut Awan tidak peduli, tapi peduli.
Ya begitu cara Awan peduli, membiarkan orang lain belajar sendiri, agar mereka lebih mengenal diri mereka sendiri. Luna melihat Awan sambil senyum-senyum sendiri.
Luna kembali melihat anak lelaki di seberang, lalu berdiri, kemudian mengibas-ngibas roknya yang kotor dengan tangan.
"Mungkin dia pengen temanan sama kita."
Mata Awan mengikuti gerakan Luna, "terus?"
"disamperin?" kata Luna setengah bertanya kepada Awan
"Hm, oke.." suara Awan terkesan sabar dalam tarikan nafas panjang. Luna tersenyum senang.
Tetapi Luna diam saat Awan mulai melangkah, Awan membalik badannya, dengan gerakan khas menyangku tangan ke saku celana. Tidak bicara, hanya bertanya lewat tatapan mata "kenapa belum jalan juga, Luna?"
"Jika aku ingin mengenal orang itu, tujuannya adalah agar aku bisa mengenalkanmu padanya, biar dia tau, teman sepertimu itu ada,"
Awan diam "udah tau, jalan!"
Lelaki di seberang yang melihat Luna dan Awan menghampiri segera berdiri dan tersenyum.
Awan dan Luna
Luna merenggangkan kedua tangannya, menatap kedua tangannya memanjang lurus ke kanan dan ke kiri, sambil menyipit memastikan semuanya sudah benar.
Lalu ia berlari, berlari ditengah sabana, sesukanya ia berlari, layaknya pesawat lepas landas, tapi ini bukan pesawat, ia mencoba untuk bisa terbang seelok elang.
Seakan telah mencapai angkasa, ia meliuk ke atas dan kebawah,
sesekali ia melompat, sepertinya bukan lagi elang,
entah apa, hanya mengikuti irama,
irama yang entah datangnya dari mana
Awan yang ikut singgah di tepi,
berdiri diam, kemudian menelanjangi kaki
tidak ke mana-mana, tangannya tetap di saku celana
angin berhembus mengibar rambutnya
matanya terpejam, merasakan nafasnya yang dingin dan dalam
tarian Luna, seperti sebuah alunan tak bersuara baginya
mengiringi pencarian menemui diri sendiri
entah bagaimana caranya mereka bisa bersenyawa
Sebagaimana Luna yang sedang di seberang,
menari-nari sendiri,
menemui dirinya, yang alami, sebagai bagian dari bumi
begitu saja caranya..
begitu saja cara mereka
Lalu ia berlari, berlari ditengah sabana, sesukanya ia berlari, layaknya pesawat lepas landas, tapi ini bukan pesawat, ia mencoba untuk bisa terbang seelok elang.
Seakan telah mencapai angkasa, ia meliuk ke atas dan kebawah,
sesekali ia melompat, sepertinya bukan lagi elang,
entah apa, hanya mengikuti irama,
irama yang entah datangnya dari mana
Awan yang ikut singgah di tepi,
berdiri diam, kemudian menelanjangi kaki
tidak ke mana-mana, tangannya tetap di saku celana
angin berhembus mengibar rambutnya
matanya terpejam, merasakan nafasnya yang dingin dan dalam
tarian Luna, seperti sebuah alunan tak bersuara baginya
mengiringi pencarian menemui diri sendiri
entah bagaimana caranya mereka bisa bersenyawa
Sebagaimana Luna yang sedang di seberang,
menari-nari sendiri,
menemui dirinya, yang alami, sebagai bagian dari bumi
begitu saja caranya..
begitu saja cara mereka
Minggu, 01 Desember 2013
Sesak-Cekat
Saat nafasku mulai sesak itu justru saat yang paling menakutkan
Mencari kesempatan menata nafas
Menghentikan tarikan panjang disertai teriakan dalam
Jantung seperti berhenti sesaat, kemudian melemah setelahnya
Takut, tidak ingin sendiri
itu yang aku rasakan saat nafasku mulai sesak
Tidak ingin sendiri dalam keadaan mencekat itu
dalam keadaan dimana aku tidak mampu melakukan apa-apa
beberapa detik yang menakutkan
beberapa detik ketakutan
setelahnya kesedihan, hanya jika tidak ada yang kunjung datang
Apa itu artinya aku masih butuh orang?
Hanya untuk menemani
hanya untuk bertanya "kamu baik-baik saja?"
Apa manusia memang begitu?
Apa bisa jika tidak begitu?
Mencari kesempatan menata nafas
Menghentikan tarikan panjang disertai teriakan dalam
Jantung seperti berhenti sesaat, kemudian melemah setelahnya
Takut, tidak ingin sendiri
itu yang aku rasakan saat nafasku mulai sesak
Tidak ingin sendiri dalam keadaan mencekat itu
dalam keadaan dimana aku tidak mampu melakukan apa-apa
beberapa detik yang menakutkan
beberapa detik ketakutan
setelahnya kesedihan, hanya jika tidak ada yang kunjung datang
Apa itu artinya aku masih butuh orang?
Hanya untuk menemani
hanya untuk bertanya "kamu baik-baik saja?"
Apa manusia memang begitu?
Apa bisa jika tidak begitu?
Sabtu, 30 November 2013
Igauan
Tubuhku panas,
Lemas rasanya, sesekali pusing
Stresor itu menyerang sebentar-sebentar, sedikit-sedikit, berkala namun terus menerus
Dari mataku mengalir air mata,
Ekspresi fisik yang masih aku pertanyakan dari mana sebabnya
Ini namanya sakit
Pekerjaan menumpuk,
Tanggungjawab menekan
Akibat kedewasaan?
Kebutuhan kedewasaan?
Perlukah sebuah kesibukan?
Apa artinya bagiku?
Ada maknanya bagi tujuan hidupku?
Entahlah, yang pasti, yang sudah menjadi tanggungjawab adalah janji
Janji adalah hutang
Itu ilmu yang aku terima dari ibu guru
tapi sepertinya bukan itu yang menyekap otakku saat ini,
ya, janji memang hutang, lalu kenapa kalau aku berhutang
yang mungkin benar sendang menyekap otakku adalah ilmu ini
Bahwa aku tidak pernah boleh berhutang
Itu kata ibuku
Lemas rasanya, sesekali pusing
Stresor itu menyerang sebentar-sebentar, sedikit-sedikit, berkala namun terus menerus
Dari mataku mengalir air mata,
Ekspresi fisik yang masih aku pertanyakan dari mana sebabnya
Ini namanya sakit
Pekerjaan menumpuk,
Tanggungjawab menekan
Akibat kedewasaan?
Kebutuhan kedewasaan?
Perlukah sebuah kesibukan?
Apa artinya bagiku?
Ada maknanya bagi tujuan hidupku?
Entahlah, yang pasti, yang sudah menjadi tanggungjawab adalah janji
Janji adalah hutang
Itu ilmu yang aku terima dari ibu guru
tapi sepertinya bukan itu yang menyekap otakku saat ini,
ya, janji memang hutang, lalu kenapa kalau aku berhutang
yang mungkin benar sendang menyekap otakku adalah ilmu ini
Bahwa aku tidak pernah boleh berhutang
Itu kata ibuku
Kamis, 21 November 2013
Awal
Aku ingin mengingat bagaimana pertama kali kita mulai berinteraksi
titik awal dua pribadi saling mempengaruhi hidup masing-masing
menjadikan pribadi yang baru, berbeda.
Momen itu, entah di mana aku menyimpannya,
sulit sekali mencarinya di pikiranku,
yang ada hanya tumpukan wajah-wajah barumu
dan beberapa kata-kata bijak yang menjengkelkan.
titik awal dua pribadi saling mempengaruhi hidup masing-masing
menjadikan pribadi yang baru, berbeda.
Momen itu, entah di mana aku menyimpannya,
sulit sekali mencarinya di pikiranku,
yang ada hanya tumpukan wajah-wajah barumu
dan beberapa kata-kata bijak yang menjengkelkan.
Senin, 04 November 2013
Orang Bilang, Aku
Ada yang bilang, ngobrol sama aku seperti bertemu dengan senja
Ada yang bilang, aku ini orang yang tidak sepaham dengan dunia
Ada yang bilang, aku ini seperti lautan biru,
Ada yang bilang, aku ini anak sugesti
Ada yang bilang, aku ini menjengkelkan
Ada yang bilang, aku ini terlalu pendiam
Ada yang bilang, aku ini manusia tanpa ekspresi
Langganan:
Postingan (Atom)