Terlalu jauh, seperti menonton televisi, aku melihatmu begitu jelas dan dekat, tapi sebenarnya kamu berada di ruang dan waktu yang jauh berbeda denganku.
Aku tidak suka televisi!
Kamis, 20 November 2014
Jumat, 26 September 2014
Jumat, 12 September 2014
Meng-aku
Aku dan bicaraku..
Aku dan bicara dalam diamku..
Aku dan teriak serampanganku
Aku dan kesadaranku akan kosong di tengah sekian tawa tak berarti yang lalu
Aku yang..tidak ingin diganggu saat itu untuk palsu
Aku yang meng-aku
Aku yang menikmati tenang
Aku dan bicara dalam diamku..
Aku dan teriak serampanganku
Aku dan kesadaranku akan kosong di tengah sekian tawa tak berarti yang lalu
Aku yang..tidak ingin diganggu saat itu untuk palsu
Aku yang meng-aku
Aku yang menikmati tenang
Kamis, 21 Agustus 2014
Taman Antah Berantah
10 menit lagi,
mereka harus pergi dari taman antah berantah ini, setidaknya hanya itu waktu
yang disisakan oleh Kame jika menggunakan mesin waktunya. Waktu yang terbatas
membuat mereka hanya dapat menggunakan mesin waktu itu untuk berwisata,
memenuhi kebutuhan spiritual di tempat sepi, hanya mereka dan hamparan
kehidupan alam tanpa prasangka manusia, menyatukan diri mereka yang berantakan
di taman antah berantah yang steril dari polusi semesta, entah mereka tengah di
planet mana, atau di waktu yang mana, tapi permukaan langit masih sama seperti
yang tertampakkan di bumi selatan.
"kenapa aku
pikir waktuku masih banyak?"
"mungkin
karena kamu bisa melompat-lompat dari satu abad ke abad lainnya."
Luna malah
tersenyum mendengar jawaban Awan.
Ini waktunya, Awan hanya
mengamati saat Luna mulai menekan kedua kepalanya dengan jemari, lalu mulai
menangis menitkkan air mata, Awan, masih melihat dengan sepenuhnya jiwa yang
mulai terbawa, matanya menyorot dalam, kedalam diri, kedalam keteduhan, seperti
melihat air yang jernih seiring air mata yang mulai menetes dari pelupuk mata
Luna, basah.
Minggu, 03 Agustus 2014
Sepi, aku lalu
Sepi
Benarkah ini keikhlasan, yang lalu membawa pada sepi.
Hai Loki, aku yakin bukan kamu yang aku cari
Aku tidak sepenuhnya ikhlas, ada noda-noda dalam bentuk enggan, bantahan, ketakutan, teriakan, dalam celah yang terhimpit di sudut ruang, tapi tertutup dalam kata "ya sudah jalani saja semampunya", "ya sudah, tawakal saja", "ya sudah, biarkan beliau hidup dengan haknya"
Aku masih tetap seorang perindu, hanya aku bukan orang yang tengah bergerilya atas cinta, meski aku hidup di atas selapis tabirnya.
Tuhanku yang semoga aku tak pernah menduakannya atau melebihkan jumlahnya tanpa aku terbutakan atas kebesarannya, Aku dan Dia, Aku dan celah-celah yang ku cari antara aku dan Dia sebagai pantas pantas atas keberadaanku sebagai manusia tanpa aku perlu terjauhkan darinya.
Hah, bodoh, seakan aku bisa mengaturnya, seakan punya kuasa, tapi memang begitu bukan, aku bodih yang sombong, bahkan aku masih bodoh dan sombong ketika aku seakan tau bahwa aku bodoh dan sombong.
Lalu, aku, di sekian detik kehilangan aku, aku lalu, aku habis dalam kata-kataku. Aku...
Aku dalam sepi menghitung hitung seberapa benarnya aku di sekali waktu, meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar tau, tapi aku harus tetap begitu selama wajahku masih menghadap wajah bumi, selama wajahNya masih terus mengawasi (atau yang ku pikir mwngawasi)
Saat sepi ini biar aku serahkan kepada yang berhak atas Aku
Benarkah ini keikhlasan, yang lalu membawa pada sepi.
Hai Loki, aku yakin bukan kamu yang aku cari
Aku tidak sepenuhnya ikhlas, ada noda-noda dalam bentuk enggan, bantahan, ketakutan, teriakan, dalam celah yang terhimpit di sudut ruang, tapi tertutup dalam kata "ya sudah jalani saja semampunya", "ya sudah, tawakal saja", "ya sudah, biarkan beliau hidup dengan haknya"
Aku masih tetap seorang perindu, hanya aku bukan orang yang tengah bergerilya atas cinta, meski aku hidup di atas selapis tabirnya.
Tuhanku yang semoga aku tak pernah menduakannya atau melebihkan jumlahnya tanpa aku terbutakan atas kebesarannya, Aku dan Dia, Aku dan celah-celah yang ku cari antara aku dan Dia sebagai pantas pantas atas keberadaanku sebagai manusia tanpa aku perlu terjauhkan darinya.
Hah, bodoh, seakan aku bisa mengaturnya, seakan punya kuasa, tapi memang begitu bukan, aku bodih yang sombong, bahkan aku masih bodoh dan sombong ketika aku seakan tau bahwa aku bodoh dan sombong.
Lalu, aku, di sekian detik kehilangan aku, aku lalu, aku habis dalam kata-kataku. Aku...
Aku dalam sepi menghitung hitung seberapa benarnya aku di sekali waktu, meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar tau, tapi aku harus tetap begitu selama wajahku masih menghadap wajah bumi, selama wajahNya masih terus mengawasi (atau yang ku pikir mwngawasi)
Saat sepi ini biar aku serahkan kepada yang berhak atas Aku
Selasa, 10 Juni 2014
Eragon in Platon
Gadis itu tengah melenggangkan sampai kemudian duduk menghadap pianonya, oskar, di tengah panggung dengan sorot lampu yang hanya miliknya, seeakan itu sinar purnama, dan ia yang satu-satunya di dunia.
Acuh, emosional, ia menggerakkan jemarinya, menyampaikan apa yang ingin disampaikan hati, bukan pada siapa, atau pada apa, entah ia buang saja. Jarinya lentik bergerak bukan dari asal energi serampangan, ia menata semua nada, tapi orang ini tidak tampak kesulitan mengimaji suatu melodi. Sepanjang alunan partitur yang dimainkan hanya terlihat seperti sebuah gambaran hidup manusiawi yang terkaji. Terkadang melodi itu terdengar marah, sedih, tertahan, atau terkadang justru terdengar seperti sebuah orasi, diamnya pun jadi bagian irama.
Wanita dengan wajah polos tanpa poles itu tampak cantik di tengah sendu setting panggung yang kacau. Seperti yang ku amati dari jiwanya, suci ditengah dunia yang fana. Duniaku, dimana aku melihatnya berpijak juga di atas tanah yang lalu ku tapaki juga, tapi entah apa ia memang hidup bersamaku atau tidak. Ia hidup bersama benda yang dianggaap orang mati, lihat itu pianonya yang ia beri nama oskar. Di suatu aula kala itu aku melihatnya menyandar kepala di atas tuts pianonya sambil berkeluh kesah, seperti anak kecil tengah merajuk dipangkuan ibu. Peron si kamera retro yang selalu diajaknya bertamasya bersama Monica sepeda mini. Dan yang terakhir ku tau adalah Caroline, buku catatan yang pernah dikenalkan kepadaku, yang waktu itu aku temukan di bawah pohon beringin dekat alun-alun.
Entah, dia jengah dengan dunia lantas membangun dunia sendiri bersama benda matinya, atau ia memang dibutakan tuhan dengan hingar bingar rusuh manusia di dunia. Oleh ratusan manusia disini ia hanya dikenal sebagai bidadari indie. Aku melihatnya seperti air mengucur, angin berhembus, hujan yang turun, pohon yang tumbuh, matahari yang bersinar, alami tanpa sengaja mengungguli tapi jadi kebutuhan pokok bumi, bumiku. Sayangnya hanya dia berjasad, dia manusia, dan dia cantik.
Aku mencintainya seperti awam menganggumi lukisan absurd, tak tau apa apa hanya tau suka. Aku mencintainya seperti hamba bersyukur atas udara. Aku mencintainya tanpa ingin menyentuh atau mengotorinya. Aku mencintainya hanya dengan melihatnya baik-baik saja. Dan aku hanya duduk mengamati dari sisi gelap bangku penonton, yang saat ini mungkin sedang tak dianggapnya.
Sabtu, 07 Juni 2014
Kawananmu
Rela atau tidak, yang jelas aku semakin takut ketika melihat kalian mulai berkeliaran di tempat ku tinggal. Hari ini aku mengikuti langkah kalian, sambil merinding, karena aku yakin kalian telah membentuk kawanan di suatu tempat, tempat yang ingin kutemukan, tp tidak ingin kulihat, ingin aku hancurkan, tp sudah pasti aku akan ketakutan. Keyakinan akan keberadaan kalian ini adalah keyakinan yang tidak pernah aku harapkan kebenarannya.
Kalian makhluk, aku tidak tau bagaimana bijak pada kalian meski aku juga makhluk.
Kalian makhluk, aku tidak tau bagaimana bijak pada kalian meski aku juga makhluk.
Jumat, 06 Juni 2014
fuh
Semacam..
Cinta Tuhan yang tersalur dalam diri saya sepertinya cukup bagi seluruh dunia.
Tapi karena saya manusia, di suatu waktu manusiaku kan memilih untuk lebih peduli pada salah satunya
Cinta Tuhan ini, pun bisa berbalik justru kepada pemiliknya, tapi lagi karena aku manusia, anugerah untuk membagi, itu ada, anugerah dari yang merahmati seluruh dunia.
Dialah NamaNya, sifatNya, dan tawakalku padaNya saja
Cinta Tuhan yang tersalur dalam diri saya sepertinya cukup bagi seluruh dunia.
Tapi karena saya manusia, di suatu waktu manusiaku kan memilih untuk lebih peduli pada salah satunya
Cinta Tuhan ini, pun bisa berbalik justru kepada pemiliknya, tapi lagi karena aku manusia, anugerah untuk membagi, itu ada, anugerah dari yang merahmati seluruh dunia.
Dialah NamaNya, sifatNya, dan tawakalku padaNya saja
Jumat, 23 Mei 2014
Rabu, 14 Mei 2014
Man-Emon
Si Emon, pedofil melankoli yang selalu menulis dayeri setelah mencabuli korbannya. Apa mungkin dia bakal ditulis kaya gini.
"dear dayeri. hari ini aku seneng den lagi. aku dapet korban lagi, anaknya lucu, agak kebiji-bijian gitu deh. eh, udah dulu ya, aku mau jalan-jalan nyari korban lagi"
***
"yang jelas dia punya cerita di sana" kataku menimpali.
***
Kriminal selalu punya cerita, kenapa dia begitu, apa alasannya berbuat begitu, terlepas dari benar tidaknya perilaku mereka. Jika menyangkut perilaku manusia, aku terkadang tidak berfikir tentang salah benarnya, karena kita mengatakan hal yang sudah terlanjur terjadi atau tengah terjadi, aku malah berfikir tentang mengapa mereka begitu, mereka sedang sakit apa, bagaimana ceritanya, bagaimana mengobatinya, dan pertanyaan lainnya.
Pram & Ilyas
Saya semakin mengerti tentang perbedaan itu.
***
Di suatu pagi saya menemukan seorang yang jauh dari kata ideal bagi saya, perilakunya aneh, berlebihan untuk usianya yang paruh baya, sama sekali tidak terkesan bijaksana atau berwibawa. Saya memandang sebelah mata, meskipun saya tidak mengatakan keburukannya, tapi berita tentang jejak perilaku yang tidak terpuji darinya pernah saya dengar, saya diam saja ketika hari itu ada yang membahas tentang orang itu, dia, garong kelas teri dan pemabuk kecut itu namanya Pram.
Beberapa kali Pram seakan mencari perhatian, berbicara dengan lantang seakan menunjukkan bahwa ia orang penting dan pandai bergaul. Saya berusaha tidak menguping, atau menggubris, tapi saya cukup terganggu dengan orang seperti Pram itu, bagi saya orang yang low profile, tenang dan komunikatif itu mungkin lebih enak dilihat.
Penyair Gila
Mereka memang bukan manusia suci, tapi tak pantas juga melihat mereka hanya membicarakan tentang kotornya mereka. Mereka tau tuhannya, tau mulia dan cinta kasih tuhannya, tapi syariat tidak jadi pilihan utama. Sikapnya, jangan tanya, berusaha apa adanya, tapi, humanis? tidak juga. Bagi mereka hanya dengan menjadi bagian dari alam akan membuat mereka menjadi sebagai mana alam yang alami, mereka benci polusi, mereka benci modernisasi yang bagi mereka ternyata hanya barang basi,
Kamis, 08 Mei 2014
Sampahmu
Sampahmu, iya, sampahmu.
Sampah yang km buang di mukaku.
"Buang saja" kataku, "buang saja sebanyak yang kamu bisa"
Karena di satu waktu aku sangat ingin menjagamu tetap bersih.
Sampah itu, masih kamu simpan, kamu tampakkan di waktu-waktu tertenyu, "jangan, buang saja" kataku.
Semakin banyak yang terlihat, sebab semakin ingin aku menjaga, bujan untu siapa-siapa, untukmu saja. Bukan karenatidak ingin dekat dengan sampah, hanya sosok sepertinu terlalu indah untuk dikelilingi sampah.
Sampahmu, iya sampahmu.
Jangan sampai mati tertimbun sampahmu
Sampah yang km buang di mukaku.
"Buang saja" kataku, "buang saja sebanyak yang kamu bisa"
Karena di satu waktu aku sangat ingin menjagamu tetap bersih.
Sampah itu, masih kamu simpan, kamu tampakkan di waktu-waktu tertenyu, "jangan, buang saja" kataku.
Semakin banyak yang terlihat, sebab semakin ingin aku menjaga, bujan untu siapa-siapa, untukmu saja. Bukan karenatidak ingin dekat dengan sampah, hanya sosok sepertinu terlalu indah untuk dikelilingi sampah.
Sampahmu, iya sampahmu.
Jangan sampai mati tertimbun sampahmu
Minggu, 27 April 2014
Sajak Pagi
Pagi hari menapakkan kaki di bumi, mengamati jejak manusia semalam dan malam-malam yang lalu, tapi jejakmu saat bersamaku semalam tak ada di sana, siapa yang menghapusnya?
Seseorang tengah mencoba melupakan, menghapus, untuk membunuhku yang tinggal di dirinya dalam sepersekian waktu hidupnya, aku tak pernah pergi, belum pernah mati, tapi bagimu aku bisa hilang begitu saja?
Diam pada pagi, saat venus masih menemani putri bulan yang menyabit diangkasa biru muda, awan putih saling susul di timur, matahari mengguyur sinar menghapus cahaya-cahaya mereka, yang mulai meredup, tapi masih cantik karena kilau sederhana dan semampunya itu justru terlihat seperti berlian, mahal. Tapi kemudian hilang.
Matahari selalu tau bulan ada di sana meskti tak bisa melihatnya, begitu pun venus, dan awan tetap menggeliat bebas di kala langit malam nan hitam menutup putihnya.
Sebeneranya mereka hanya saling mewakili demi tetap menghidupi bumi atas titah sang kuasa,tidak pernah saling membenci, tidak pernah saling iri, tidak pernah saling menghabisi. Hanya sesederhana itu, untuk selama waktu hidupnya.
Dan, kau?
Dan, kau?
26.4.1964
Vint.
NB : aku masih tinggal
Jumat, 18 April 2014
Bumi, Luna, Awan
Seakan hanya
Luna Awan dan Allah tuhannya
Cukup, untuk dua manusia yang saling melengkapi cinta atas Tuhan mereka
Berjalanlah di atas bumi, maka perhatikanlah..
Cukup pun tidak cukup, selama rotasi tak juga terhenti
Karena jika berpasrah itu cukup, maka rindu tidak akan jadi harapan
Mereka,
bersama alam dan manusia lainnya
Luna Awan dan Allah tuhannya
Cukup, untuk dua manusia yang saling melengkapi cinta atas Tuhan mereka
Berjalanlah di atas bumi, maka perhatikanlah..
Cukup pun tidak cukup, selama rotasi tak juga terhenti
Karena jika berpasrah itu cukup, maka rindu tidak akan jadi harapan
Mereka,
bersama alam dan manusia lainnya
Tawakal
Dan jika rasa tidak mampu lagi dikuasai, maka kembalilah "diri yang tidak mampu" kepada yang Maha Kuasa
Dan tawakal bukanlah mematikan rasa, untuk kembali fokus pada titahnya,
karena tawakal berarti menyerahkan segala rasa,
nyatanya rasa itu tercipta bersama manusia itu ada,
tidak bisa tau sebabnya apa
kenapa manusia seakan berkuasa diatas segala yang telah tertakdir
dan karena dari sanalah semua menjadi ada.
maka kembalikan saja
barangkali
karena tawakal itu bukan mematikan rasa
karena tawakal itu menyerahkan segala rasa, dengan penuh rasa
karena ketika berpasrah itu cukup, maka kerinduan tidak akan jadi harapan
Dan tawakal bukanlah mematikan rasa, untuk kembali fokus pada titahnya,
karena tawakal berarti menyerahkan segala rasa,
nyatanya rasa itu tercipta bersama manusia itu ada,
tidak bisa tau sebabnya apa
kenapa manusia seakan berkuasa diatas segala yang telah tertakdir
dan karena dari sanalah semua menjadi ada.
maka kembalikan saja
barangkali
karena tawakal itu bukan mematikan rasa
karena tawakal itu menyerahkan segala rasa, dengan penuh rasa
karena ketika berpasrah itu cukup, maka kerinduan tidak akan jadi harapan
Rabu, 16 April 2014
Cahaya
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun, yang tumbuh tidak hanya di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah memberi petunjuk kepada cahayaNya bagi orang-orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.
(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut namaNya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang,
orang yang tidak dilalaikan dengan perdaganyan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang.
............
(firman cahaya)
Minggu, 13 April 2014
Serangan Psikis dan Pingsan
Ini terapi kedua,
Aku pikir mind terapi kali ini akan sulit mencapi kata kondusif karena dilakukan di ruang terbuka dengan jumlah siswa yang cukup banyak. Bisa dibilang tidak cukup memadai.
Beberapa siswa justru sedang sakit, ada dua orang yang baru saja kecelakaan. yang satu jari-jarinya di perban, yang satu kakinya bermasalah entah kenapa, tidak terlihat karena ia memakai rok panjang.
Lagi. Biasanya peserta terapi adalah anak kelas 3 yang hendak menghadapi UN, tapi ini justru anak kelas 1. Terapis sempat bertanya-tanya, untuk apa anak-anak kelas 1 diberi terapi. Benar juga menurutku, karena menurutku terapi ini sifatnya jangka pendek, jika ingin modifikasi perilaku jauh lebih efektif jika dilakukan secara berkala dan dalam waktu yang cukup panjang. Jadi, terapi ini umumnya bertujuan agar mereka lebih bersemangat belajar, dengan memasukkan sugesti bahwa mereka tidak boleh menyia-nyiakan jasa orang tua yang sudah susah payah menyekolahkan mereka.
Aku pikir mind terapi kali ini akan sulit mencapi kata kondusif karena dilakukan di ruang terbuka dengan jumlah siswa yang cukup banyak. Bisa dibilang tidak cukup memadai.
Beberapa siswa justru sedang sakit, ada dua orang yang baru saja kecelakaan. yang satu jari-jarinya di perban, yang satu kakinya bermasalah entah kenapa, tidak terlihat karena ia memakai rok panjang.
Lagi. Biasanya peserta terapi adalah anak kelas 3 yang hendak menghadapi UN, tapi ini justru anak kelas 1. Terapis sempat bertanya-tanya, untuk apa anak-anak kelas 1 diberi terapi. Benar juga menurutku, karena menurutku terapi ini sifatnya jangka pendek, jika ingin modifikasi perilaku jauh lebih efektif jika dilakukan secara berkala dan dalam waktu yang cukup panjang. Jadi, terapi ini umumnya bertujuan agar mereka lebih bersemangat belajar, dengan memasukkan sugesti bahwa mereka tidak boleh menyia-nyiakan jasa orang tua yang sudah susah payah menyekolahkan mereka.
Pertama
Ini terapi pertama, yah, aku pernah mengalaminya, tapi sedikit berbeda. Jika mampu, aku hampir selalu menolak sugesti yang disengaja. Jadi meski sugesti itu aku makan, aku menahan, lalu menyangkal. Aku sendiri masih bertanya-tanya terapi nanti akan jadi seperti apa, ya kan pertama kalinya aku terlibat sebagai penyelenggara.
"mungkin nanti akan ada yang kejang, ada yang mengamuk, ada yang berteriak."
Lalu, aku diberi tahu beberapa langkah praktis sederhana untuk menangani insiden-insiden itu jika mungkin terjadi. Grogi itu hanya sedikit, karena benar, situasi ini sulit aku membayangkan.
Dan semua dimulai. Manusia-manusia itu tidur, menangis, menjerit-jerit memekakan telinga, mungkin aku sedikit terganggu dan cemas, sepanjang terapi aku gigit jari melihat orang menangis dan berteriak.
Fuh,.
Tapi sejauh ini tidak ada hal parah terjadi, tangis, haru, pelukan, emosional.
Aku melihat semuanya dari luar, sama sekali tidak tersentuh emosi mereka. Aku aneh.
Tapi baiklah, cukup menarik, sebenernya mulai menarik.
"mungkin nanti akan ada yang kejang, ada yang mengamuk, ada yang berteriak."
Lalu, aku diberi tahu beberapa langkah praktis sederhana untuk menangani insiden-insiden itu jika mungkin terjadi. Grogi itu hanya sedikit, karena benar, situasi ini sulit aku membayangkan.
Dan semua dimulai. Manusia-manusia itu tidur, menangis, menjerit-jerit memekakan telinga, mungkin aku sedikit terganggu dan cemas, sepanjang terapi aku gigit jari melihat orang menangis dan berteriak.
Fuh,.
Tapi sejauh ini tidak ada hal parah terjadi, tangis, haru, pelukan, emosional.
Aku melihat semuanya dari luar, sama sekali tidak tersentuh emosi mereka. Aku aneh.
Tapi baiklah, cukup menarik, sebenernya mulai menarik.
Dongeng
Ketika aku mulai mencintai dongeng
Sejak itu aku memilih peran, untuk ku libatkan dalam sebuah cerita
Mengenai alurnya?
Tidak, aku memang tidak berkuasa, tapi, sejauh ini semua bisa dimainkan,
alurrnya, perannya,
Imajinasi, asosiasi, dengan segala realitas yang ada, dengan segenap kewarasan yang tersisa,
dengan sisi ketenangan yang aku punya, aku hanya bersiap untuk segala kemungkinan
Dongeng ini,
sesekali mengajakku berfikir lebih bijaksana untuk rela, "oo, jadi begini ceritanya, baiklah", karena aku ingat bukan kuasaku atas alurnya, apalagi berkuasa atas perannya selain aku
Rupanya ini 'cara'ku menjalani hidup, jadi, iya saja
Sejak itu aku memilih peran, untuk ku libatkan dalam sebuah cerita
Mengenai alurnya?
Tidak, aku memang tidak berkuasa, tapi, sejauh ini semua bisa dimainkan,
alurrnya, perannya,
Imajinasi, asosiasi, dengan segala realitas yang ada, dengan segenap kewarasan yang tersisa,
dengan sisi ketenangan yang aku punya, aku hanya bersiap untuk segala kemungkinan
Dongeng ini,
sesekali mengajakku berfikir lebih bijaksana untuk rela, "oo, jadi begini ceritanya, baiklah", karena aku ingat bukan kuasaku atas alurnya, apalagi berkuasa atas perannya selain aku
Rupanya ini 'cara'ku menjalani hidup, jadi, iya saja
Takut
Mentok,
bodoh, ketika takut pada perkiraan kita sendiri
ketakutan itu melelahkan, menyita energi jiwa raga
untuk sesuatu yang belum kita hadapi,
belum tentu kita jalani
bodoh, ketika takut pada perkiraan kita sendiri
ketakutan itu melelahkan, menyita energi jiwa raga
untuk sesuatu yang belum kita hadapi,
belum tentu kita jalani
Temanku
Karena aku kalah,
di kewarasanku, dia jauh lebih waras,
atas kesimpulanku sendiri, dengan mengabaikan segala protesnya
Ketika bicara, ada satu titik dimana aku tidak melihatnya sebagai manusia
ruh saja, ciptaan tuhan, bagian alam,
yang menginformasikan sebuah ilmu kehidupan
semoga tetap terjaga, dijaga, untuknya juga, temanku yang disana
yang kadang bukan manusia itu
di kewarasanku, dia jauh lebih waras,
atas kesimpulanku sendiri, dengan mengabaikan segala protesnya
Ketika bicara, ada satu titik dimana aku tidak melihatnya sebagai manusia
ruh saja, ciptaan tuhan, bagian alam,
yang menginformasikan sebuah ilmu kehidupan
semoga tetap terjaga, dijaga, untuknya juga, temanku yang disana
yang kadang bukan manusia itu
sederhana, lagi
"dan biarkan aku merasa tidak peduli pada sepersekian hati
Kamu, lebih jauh melanglang,
kita bertemu lagi di suatu siang nanti dalam ruang tak bersekat, terkungkum rasa tak berbatas"
.Luna.
tapi bumi tak sepenuhnya aman ketika mereka ingin menapak dengan tenang
ranjau di sana-sini, bukan daerah bekas perang, memang di sana sini mereka telah tertanam
rawan
sesekali Luna bangkit, berdiri, tidak santai lagi,
yang tak terbatas, liar kesana kemari, sesekali memang perlu di kuasai,
karena berpasrah itu seperti mengikat balon nitrogen pada pagar kayu di halaman,
hembusan angin di luar tidak dapat terelakkan
karena jika berpasrah itu cukup, maka kerinduan tidak akan jadi harapan
"ini, yang memenuhi ruang bumi, adalah setitik cintanya,
berarti telah kuasa, ketika kamu telah melihat Sang Maha Kuasa di sana"
.Awan.
sederhana, hakikatnya.
perih, sakit, senang, gila, jelmaan sang sederhana, untuk sebuah kehidupan yang hidup,
untuk kesederhanaan yang lebih sederhana.
Kamu, lebih jauh melanglang,
kita bertemu lagi di suatu siang nanti dalam ruang tak bersekat, terkungkum rasa tak berbatas"
.Luna.
tapi bumi tak sepenuhnya aman ketika mereka ingin menapak dengan tenang
ranjau di sana-sini, bukan daerah bekas perang, memang di sana sini mereka telah tertanam
rawan
sesekali Luna bangkit, berdiri, tidak santai lagi,
yang tak terbatas, liar kesana kemari, sesekali memang perlu di kuasai,
karena berpasrah itu seperti mengikat balon nitrogen pada pagar kayu di halaman,
hembusan angin di luar tidak dapat terelakkan
karena jika berpasrah itu cukup, maka kerinduan tidak akan jadi harapan
"ini, yang memenuhi ruang bumi, adalah setitik cintanya,
berarti telah kuasa, ketika kamu telah melihat Sang Maha Kuasa di sana"
.Awan.
sederhana, hakikatnya.
perih, sakit, senang, gila, jelmaan sang sederhana, untuk sebuah kehidupan yang hidup,
untuk kesederhanaan yang lebih sederhana.
Rabu, 26 Maret 2014
Do'a
Apa hanya "do'a", ruang yang tersisa bagi hamba dan tuhannya?
Saya hanya ingin selalu merasakan "pelukan" itu
ketika istiqomah bukan hanya membawa kejenuhan karena monotonnya, tapi dinamika atas ketenangan jiwa, karena iman dan ihsan, tidak semudah itu didisiplinkan.
Awam.
Saya hanya ingin selalu merasakan "pelukan" itu
ketika istiqomah bukan hanya membawa kejenuhan karena monotonnya, tapi dinamika atas ketenangan jiwa, karena iman dan ihsan, tidak semudah itu didisiplinkan.
Awam.
Selasa, 25 Maret 2014
Pagi
Masih terlalu pagi untuk mengernyitkan dahi?
Semalaman kau berfikir, untuk kemudian menyapaku lewat simbol yang membingungkan,
dan dari sekian simbol itu yang ku mengerti hanya satu kata "berfikirlah"
Pagi,
Pesimisme dan Optimisme bersanding disepanjang jalan meski aku belum keluar, hanya bising, teriakan di sana-sini, sebentar semangat sebentar muak
Dan di pagi hari, aku memilih menu untuk hari ini
akan seperti apa hari ini, tanpa ada pikiran tentang mati
Pagi, kebebasan dalam pikiran yang terdesak
Pagiku, terpikir untuk "berfikir" bersamamu
Atau tinggalkan saja disitu, tak peduli tanpa jasadmu
Biar kala pagi, aku bisa melangkah di atas tanah tanpa sepatu
Semalaman kau berfikir, untuk kemudian menyapaku lewat simbol yang membingungkan,
dan dari sekian simbol itu yang ku mengerti hanya satu kata "berfikirlah"
Pagi,
Pesimisme dan Optimisme bersanding disepanjang jalan meski aku belum keluar, hanya bising, teriakan di sana-sini, sebentar semangat sebentar muak
Dan di pagi hari, aku memilih menu untuk hari ini
akan seperti apa hari ini, tanpa ada pikiran tentang mati
Pagi, kebebasan dalam pikiran yang terdesak
Pagiku, terpikir untuk "berfikir" bersamamu
Atau tinggalkan saja disitu, tak peduli tanpa jasadmu
Biar kala pagi, aku bisa melangkah di atas tanah tanpa sepatu
Senin, 24 Maret 2014
Saya dan Anda
Apa saya yang menuntut terlalu banyak
Atau anda yang berfikir saya menuntut terlalu banyak
Mungkin keduanya terjadi pada momen berbeda, atau pada momen yang sama
Silahkan komunikasikan persepsi anda jika perlu dikomunikasikan
Percaya begitu saja pada asumsi tanpa diuji mungkin akan mengganggu kesehatan anda
Perubahan sikap anda tanpa komunikasi yang jelas juga akan mengganggu saya
Selama masih bisa mendengar saya akan mendengarkan hasil kerja kognitif anda, tentang saya
Selagi belum bicara saya bisa mempersiapkan diri untuk ledakan ledakan jiwa saya, atau anda
Haaaaah, manusia.
Atau anda yang berfikir saya menuntut terlalu banyak
Mungkin keduanya terjadi pada momen berbeda, atau pada momen yang sama
Silahkan komunikasikan persepsi anda jika perlu dikomunikasikan
Percaya begitu saja pada asumsi tanpa diuji mungkin akan mengganggu kesehatan anda
Perubahan sikap anda tanpa komunikasi yang jelas juga akan mengganggu saya
Selama masih bisa mendengar saya akan mendengarkan hasil kerja kognitif anda, tentang saya
Selagi belum bicara saya bisa mempersiapkan diri untuk ledakan ledakan jiwa saya, atau anda
Haaaaah, manusia.
Kamis, 20 Maret 2014
Apa?
Masalahnya bukanlah apa yang orang lihat dariku
tapi apa yang aku lakukan
Masalahnya bukan karena aku tidak peduli
tapi sebuah koreksi, atas apa yang perlu aku pedulikan
Selamat malam, Sang Malam!
tapi apa yang aku lakukan
Masalahnya bukan karena aku tidak peduli
tapi sebuah koreksi, atas apa yang perlu aku pedulikan
Selamat malam, Sang Malam!
Rabu, 19 Maret 2014
Diam Saja
"Kepalaku sakit" Luna memecah hening, matanya menerawang, mengarungi dirinya yang lebih dalam, dalam di kebingungan, seperti penyelam tersesat di kedalaman lautan, tinggal berenang saja ke atas, tapi ia hanya berputar-putar. "Aku berurusan dengan banyak manusia..kepalaku sakit"
"Diam" Raut wajah Awan semakin tenang, tangannya tetap tak diam menggores kertas dengan untaian garis dengan sembarang tekanan, buangan energi jiwa.
Luna berjalan kemudian duduk di tengah sabana sambil menenteng gitanya. Tubuhnya lemas tersangga gitar di pangkuan, tangannya memetik begitu saja mengikuti nada yang diiyakan jiwa.
Dan sore itu, mereka selesaikan apa yang ingin diselesaikan jiwa, dalam tenang, dalam raga yang diam, tanpa ada banyak orang, tanpa lagi keluhan.
Diam saja ya.
"Diam" Raut wajah Awan semakin tenang, tangannya tetap tak diam menggores kertas dengan untaian garis dengan sembarang tekanan, buangan energi jiwa.
Luna berjalan kemudian duduk di tengah sabana sambil menenteng gitanya. Tubuhnya lemas tersangga gitar di pangkuan, tangannya memetik begitu saja mengikuti nada yang diiyakan jiwa.
Dan sore itu, mereka selesaikan apa yang ingin diselesaikan jiwa, dalam tenang, dalam raga yang diam, tanpa ada banyak orang, tanpa lagi keluhan.
Diam saja ya.
Selasa, 18 Maret 2014
Barang Barang Maa
Hari ini setelah melihat gitarku yang tak terurus di pojok ruang aku kembali teringat pada Maa.
Gitar itu diberikan Maa, bukan, sebenarnya aku yang merebutnya, jika ada senar yang mulai meracau aku kembalikan gitar itu kepada Maa, "nih, benerin!"
Gitar menjadi bahan yang selalu jadi motif untuk berinteraksi dengan Maa.
Maa sebenernya tidak lihai, aku sempat bertanya-tanya kenapa ia rela membeli gitar yang cukup mahal itu, sementara ia sangat jarang memainkannya.
Setauku, Maa memang selalu punya alasan aneh saat membeli barang. Dia selalu bangga dengan barang yang dibeli dengan alasan yang tidak sewajarnya. Seleranya tidak seperti manusia biasa, dan aku lebih sering memandangnya sebagai suatu keanehan. Biasanya aku bisa memahami keanehan orang lain, tapi untuk Maa, dia benar-benar aneh, aku sulit mengerti alasan-alasannya. Tapi meski begitu, Maa selalu mencintai barang-barangnya, tidak boleh dibuang meski sudah tampak usang dan lama tidak dipegang, atau justru selalu dielus-elus setiap hari. Tapi untuk gitar ini, sungguh aku jauh lebih sulit mengerti maksudnya. Aku mulai berpikir dia mungkin pernah diculik oleh makhluk astral, kemudian mengalami pengalaman spiritual yang tidak semestinya, hah, semoga saja tidak.
Sudah lama aku tidak bertemu Maa, dan gitar itu pun hanya aku diamkan saja.
Gitar itu diberikan Maa, bukan, sebenarnya aku yang merebutnya, jika ada senar yang mulai meracau aku kembalikan gitar itu kepada Maa, "nih, benerin!"
Gitar menjadi bahan yang selalu jadi motif untuk berinteraksi dengan Maa.
Maa sebenernya tidak lihai, aku sempat bertanya-tanya kenapa ia rela membeli gitar yang cukup mahal itu, sementara ia sangat jarang memainkannya.
Setauku, Maa memang selalu punya alasan aneh saat membeli barang. Dia selalu bangga dengan barang yang dibeli dengan alasan yang tidak sewajarnya. Seleranya tidak seperti manusia biasa, dan aku lebih sering memandangnya sebagai suatu keanehan. Biasanya aku bisa memahami keanehan orang lain, tapi untuk Maa, dia benar-benar aneh, aku sulit mengerti alasan-alasannya. Tapi meski begitu, Maa selalu mencintai barang-barangnya, tidak boleh dibuang meski sudah tampak usang dan lama tidak dipegang, atau justru selalu dielus-elus setiap hari. Tapi untuk gitar ini, sungguh aku jauh lebih sulit mengerti maksudnya. Aku mulai berpikir dia mungkin pernah diculik oleh makhluk astral, kemudian mengalami pengalaman spiritual yang tidak semestinya, hah, semoga saja tidak.
Sudah lama aku tidak bertemu Maa, dan gitar itu pun hanya aku diamkan saja.
Senin, 17 Maret 2014
Drama-Masa Lalu
"Aau!" Awan menyeringai memegang kepalanya yang kesakitan karena terantuk sesuatu yang keras. Entah batu atau apa yang terlempar tepat dikepalanya. Pagi masih belum sempurna, sial sudah menimpa, Awan menyusur pandangan ke rerumputan basah dan menemukan sebuah kertas yang setelah dibuka ternyata menggulung sebuah batu kerikil, sedang pada kertas itu sendiri terdapat tulisan 'heh, pagi!'.
"nakalnya kebangetan ni anak" gumam Awan lalu meletakkan batu dan kertasnya disamping ia duduk.
Beberapa detik kemudian Luna datang dari belakang dan segera duduk di samping Awan, memutar badan menghadap ke Awan. "pas kena kepala kan? canggih! ada yang bocor perlu di plester?"
"ga ada" kata Awan cuek sambil menekan tombol-tombol di kameranya.
"ga papa, biar drama" kata Luna sambil mengobrak abrik tas rajutnya, kemudian mengeluarkan sebuah plester, "Nih plester"
"nakalnya kebangetan ni anak" gumam Awan lalu meletakkan batu dan kertasnya disamping ia duduk.
Beberapa detik kemudian Luna datang dari belakang dan segera duduk di samping Awan, memutar badan menghadap ke Awan. "pas kena kepala kan? canggih! ada yang bocor perlu di plester?"
"ga ada" kata Awan cuek sambil menekan tombol-tombol di kameranya.
"ga papa, biar drama" kata Luna sambil mengobrak abrik tas rajutnya, kemudian mengeluarkan sebuah plester, "Nih plester"
Minggu, 16 Maret 2014
Maa
Perkenalkan,
namanya Maa, lelaki yang memilih jalan keras untuk hidupnya, bahkan sejak ia belum tau apa itu hidup.
Meskipun tidak ada tawuran, tapi nakal selalu jadi pilihan. Minuman keras pun pernah dipegang, pukul-pukulan jangan tanya, meskti tak banyak hitungannya, tapi tentu ada. Secara akademis dia tak pandai, tidak cerdik, tapi liat saja, ia punya kerja keras yang tidak terkira, dan dia, manusia sosial antik.
Temannya ada dimana-mana, bahkan orang yang tidak dikenal pun bisa tiba-tiba jadi temanya. Cara bertemannya yang antik, karena tidak semua beruntung bisa terpilih jadi temannya, dan aku pun teman antiknya.
namanya Maa, lelaki yang memilih jalan keras untuk hidupnya, bahkan sejak ia belum tau apa itu hidup.
Meskipun tidak ada tawuran, tapi nakal selalu jadi pilihan. Minuman keras pun pernah dipegang, pukul-pukulan jangan tanya, meskti tak banyak hitungannya, tapi tentu ada. Secara akademis dia tak pandai, tidak cerdik, tapi liat saja, ia punya kerja keras yang tidak terkira, dan dia, manusia sosial antik.
Temannya ada dimana-mana, bahkan orang yang tidak dikenal pun bisa tiba-tiba jadi temanya. Cara bertemannya yang antik, karena tidak semua beruntung bisa terpilih jadi temannya, dan aku pun teman antiknya.
Sabtu, 15 Maret 2014
Permainan
Dan karena permainan ini maka ada sebuah cerita
permainan yang melibatkan hati dan rasa,
dan sama-sama tau akan permainannya
ya, aku tau jika ini permainan
jadi tenanglah, karena ini permainan ini membawa cerita
dan hanya akan menjadi cerita yang bisa kita nikmati
Permainan ini mungkin hanya kita yang memainkannya
Permainan ini mungkin hanya kita yang tau caranya
Permainan ini tidak tau berakhir seperti apa
Permainan paling menarik sepanjang hidup,
tidak apa jika anda ingin memainkannya
asal anda tau, bahwa ini hanya permainan
jangan sampai anda menuntutnya pada kenyataan jika anda kalah atau menang
permainan yang melibatkan hati dan rasa,
dan sama-sama tau akan permainannya
ya, aku tau jika ini permainan
jadi tenanglah, karena ini permainan ini membawa cerita
dan hanya akan menjadi cerita yang bisa kita nikmati
Permainan ini mungkin hanya kita yang memainkannya
Permainan ini mungkin hanya kita yang tau caranya
Permainan ini tidak tau berakhir seperti apa
Permainan paling menarik sepanjang hidup,
tidak apa jika anda ingin memainkannya
asal anda tau, bahwa ini hanya permainan
jangan sampai anda menuntutnya pada kenyataan jika anda kalah atau menang
Minggu, 23 Februari 2014
Dan pada Pertemuan Terakhir
dan pada pertemuan terakhir
sekali lagi tidak ada perilaku tanpa alasan yang kuat, semakin kecil alasannya, maka semakin rendah tingkat kepentingan perilakunya. Maka bersungguh sungguhlah untuk yang perlu kesungguhan, dan, rasakan keringanan itu, ketika yang tak berarti memang tak perlu dapat banyak peluang.
dan pada pertemuan terakhir,
aku tertawa senang setelah melihat wajahnya sebal, dan setelah melihat wajahnya sebal tidak ingin lakukan apa-apa, selanjutnya aku baik-baik saja.
sekali lagi tidak ada perilaku tanpa alasan yang kuat, semakin kecil alasannya, maka semakin rendah tingkat kepentingan perilakunya. Maka bersungguh sungguhlah untuk yang perlu kesungguhan, dan, rasakan keringanan itu, ketika yang tak berarti memang tak perlu dapat banyak peluang.
dan pada pertemuan terakhir,
aku tertawa senang setelah melihat wajahnya sebal, dan setelah melihat wajahnya sebal tidak ingin lakukan apa-apa, selanjutnya aku baik-baik saja.
Sabtu, 22 Februari 2014
Hiperaktivitas
Hiperaktif?
kenapa hiperaktif? kenapa aku suka melihat orang hiperaktif dan bisa terhibur dengannya?
Hiperaktif, bergerak ke sana kemari tanpa fokus yang jelas, seperti energinya tidak pernah habis.
Aku selalu melihat orang hiperaktif sambil tersenyum riang, atau paling tidak riang dalam hati sambil menyimak gerak-geriknya yang kemana-mana, seperti menonton sebuah pertunjukan. Tapi bukan sekedar senang yang seperti itu, senang ini sepertinya bukan pekerjaan kognisi, bukan pekerjaan logika, lalu apa ya?
"Kenapa dia harus terburu-buru?" aku selalu menanyakan itu, tapi aku menanyakannya sambil tersenyum senang. mungkin jika mereka benar aku tanya mereka pun bingung menjawabnya, mungkin, karena masih jadi pertanyaan bagiku, kenapa terburu-buru.
Kenapa tidak berhenti bicara? Kenapa bicara dengan cepat? Kenapa setiap bicara harus bergerak? Kenapa ketika tidak bicara dia bergerak? Kenapa tidak bisa diam sebentar? Kenapa saat yang lain duduk dia berputar putar di ruangan?
kenapa hiperaktif? kenapa aku suka melihat orang hiperaktif dan bisa terhibur dengannya?
Hiperaktif, bergerak ke sana kemari tanpa fokus yang jelas, seperti energinya tidak pernah habis.
Aku selalu melihat orang hiperaktif sambil tersenyum riang, atau paling tidak riang dalam hati sambil menyimak gerak-geriknya yang kemana-mana, seperti menonton sebuah pertunjukan. Tapi bukan sekedar senang yang seperti itu, senang ini sepertinya bukan pekerjaan kognisi, bukan pekerjaan logika, lalu apa ya?
"Kenapa dia harus terburu-buru?" aku selalu menanyakan itu, tapi aku menanyakannya sambil tersenyum senang. mungkin jika mereka benar aku tanya mereka pun bingung menjawabnya, mungkin, karena masih jadi pertanyaan bagiku, kenapa terburu-buru.
Kenapa tidak berhenti bicara? Kenapa bicara dengan cepat? Kenapa setiap bicara harus bergerak? Kenapa ketika tidak bicara dia bergerak? Kenapa tidak bisa diam sebentar? Kenapa saat yang lain duduk dia berputar putar di ruangan?
Rabu, 19 Februari 2014
Hanya Awan Luna
Awan pernah tidak datang untuk waktu yang lama,
saat itu, bisa kamu bayangkan apa yang bisa di lakukan Luna,
sehari-hari menyempatkan waktu melintas sabana,
meski tau awan tidak di sana, ia tetap ke sana, hanya untuk melihat jejaknya.
Luna tidak tau apakah ia sedih atau gelisah, atau memang ia baik-baik saja,
yang jelas tidak ada perasaan lega, karena tidak ada teman bicara, selain itu semuanya biasa, atau ia membuatnya biasa
ia tetap berusaha mengikat diri, awan pergi, bukan berarti ia tak utuh, ia utuh sejak awal ia mengerti bahwa ia hidup di atas bumi, paling tidak ia berdiri di atas kakinya sendiri dan mengumpulkan serpihan diri sendiri, dan awan tidak pernah mengurangi itu
jadi Luna tetap Luna, manusia tahun 60an yang tidak pernah menjelma menjadi lainnya walaupun tersasar, berada di waktu yang tidak semestinya. Meski waktu bisa jadi ilusi, tapi awan bukan ilusi, dan tidak pernah membawanya pada halusinasi apapun
Jadi begitu, Luna masih disana mengumpulkan serpihan diri seperti biasanya, menemui alam untuk menemukan dirinya,
tapi tetap tidak ada perasaan lega.
"dan biarkan Awan disana tetap menjadi Awan" katanya saat senja menjelang sambil berkemas memasukkan buku ke ransel rajutan, lalu berjalan pulang.
Langit gelap, saat kemudian bintang bermunculan di langit tak berawan, bukan, langit dengan sedikit awan, atau, langit dengan awan yang tak terlihat
Di sebuah pendopo pinggiran kota, Awan di sana, bicara tentang hakikat dunia kepada manusia lainnya, manusia dimasanya.
Sesaat awan diam, jika Luna disana dia mungkin kan berkata, "hei, wan, jangan coba-coba jadi bintang"
"tenang lun, aku dan kamu hanya luna dan awan, bukan bintang" katanya sambil menyisir langit di sekitar, mencari bulan.
saat itu, bisa kamu bayangkan apa yang bisa di lakukan Luna,
sehari-hari menyempatkan waktu melintas sabana,
meski tau awan tidak di sana, ia tetap ke sana, hanya untuk melihat jejaknya.
Luna tidak tau apakah ia sedih atau gelisah, atau memang ia baik-baik saja,
yang jelas tidak ada perasaan lega, karena tidak ada teman bicara, selain itu semuanya biasa, atau ia membuatnya biasa
ia tetap berusaha mengikat diri, awan pergi, bukan berarti ia tak utuh, ia utuh sejak awal ia mengerti bahwa ia hidup di atas bumi, paling tidak ia berdiri di atas kakinya sendiri dan mengumpulkan serpihan diri sendiri, dan awan tidak pernah mengurangi itu
jadi Luna tetap Luna, manusia tahun 60an yang tidak pernah menjelma menjadi lainnya walaupun tersasar, berada di waktu yang tidak semestinya. Meski waktu bisa jadi ilusi, tapi awan bukan ilusi, dan tidak pernah membawanya pada halusinasi apapun
Jadi begitu, Luna masih disana mengumpulkan serpihan diri seperti biasanya, menemui alam untuk menemukan dirinya,
tapi tetap tidak ada perasaan lega.
"dan biarkan Awan disana tetap menjadi Awan" katanya saat senja menjelang sambil berkemas memasukkan buku ke ransel rajutan, lalu berjalan pulang.
Langit gelap, saat kemudian bintang bermunculan di langit tak berawan, bukan, langit dengan sedikit awan, atau, langit dengan awan yang tak terlihat
Di sebuah pendopo pinggiran kota, Awan di sana, bicara tentang hakikat dunia kepada manusia lainnya, manusia dimasanya.
Sesaat awan diam, jika Luna disana dia mungkin kan berkata, "hei, wan, jangan coba-coba jadi bintang"
"tenang lun, aku dan kamu hanya luna dan awan, bukan bintang" katanya sambil menyisir langit di sekitar, mencari bulan.
Senin, 17 Februari 2014
Entah Apa
Dan apa ini, yang bisa membuat manusia tak ke mana-mana. Yakin aku berkembang tapi yang 'entah apa' menggerogoti dengan ribuan gigi yang lebih tajam
Lalu racunnya membuatmu berhalusinasi akan sepenuhnya dunia
Bertahan dari 'entah apa' biar tak mati sia-sia.
Karena konyol jika habis digerogotinya, belum mati pun bisa mati
Bertahan dari 'entah apa'
Lalu racunnya membuatmu berhalusinasi akan sepenuhnya dunia
Bertahan dari 'entah apa' biar tak mati sia-sia.
Karena konyol jika habis digerogotinya, belum mati pun bisa mati
Bertahan dari 'entah apa'
Jangan, seandainya
Mungkinn aku bisa terima semua kenyataan yang ada
Tapi jangan sekali kali katakan "seandainya" terlebih untuk suatu yang buruk
Karena meski mungkin aku bisa menerima, aku tidak mengharapkannya.
Jangan katakann "seandainya" terlebih untuk suatu yang buruk, meski itu tentang hal yang telah lalu
"Seandainya.."
Bahkan aku tidak sanggup mencontohkannya.
Mengingat ucapan itu doa, meski Tuhanku maha tau niatnya
Tapi jangan sekali kali katakan "seandainya" terlebih untuk suatu yang buruk
Karena meski mungkin aku bisa menerima, aku tidak mengharapkannya.
Jangan katakann "seandainya" terlebih untuk suatu yang buruk, meski itu tentang hal yang telah lalu
"Seandainya.."
Bahkan aku tidak sanggup mencontohkannya.
Mengingat ucapan itu doa, meski Tuhanku maha tau niatnya
Minggu, 16 Februari 2014
Mata Kita
Dan di mataku kamu lihat cahaya meski tidak ada hingar bingar di sekitarnya
Dan di mataku kamu lihat ketenangan sementara di luar aku tak mengumbar harapan
Dan di mataku kamu lihat aku tidak biasa meski peranku bukan apa apa
Karena aku hanya cahaya untukku, karena aku takut tersesat sendiri
Karena bukan tidak ingin berbagi hanya tidak ada yang perlu tau
Karena aku manusia yang di tempat tugaskan jadi aku tidak perlu menyulitkan diri mencari posisi tinggi untuk menempatkan diri kembali
Karena di atas tanahlah aku rasa sejatinya aku bisa melihat bumi, merasakan bumi, benar berjalan diatas bumi
Di matamu terlihat kamu
Dan
Kamu, awan.
Apa adanya kamu.
Apa yang ada di dirimu.
Dan meski sama kita berbeda..meski berbeda kita sama.
Dan di mataku kamu lihat ketenangan sementara di luar aku tak mengumbar harapan
Dan di mataku kamu lihat aku tidak biasa meski peranku bukan apa apa
Karena aku hanya cahaya untukku, karena aku takut tersesat sendiri
Karena bukan tidak ingin berbagi hanya tidak ada yang perlu tau
Karena aku manusia yang di tempat tugaskan jadi aku tidak perlu menyulitkan diri mencari posisi tinggi untuk menempatkan diri kembali
Karena di atas tanahlah aku rasa sejatinya aku bisa melihat bumi, merasakan bumi, benar berjalan diatas bumi
Di matamu terlihat kamu
Dan
Kamu, awan.
Apa adanya kamu.
Apa yang ada di dirimu.
Dan meski sama kita berbeda..meski berbeda kita sama.
Jadi, awan, kamu mau membuktikan apa? kepada siapa?
Membuktikan sesuatu kepada manusia itu seperti tidak ada artinya.
Hmm, bener wan?
Mungkin.
Setauku, aku tau kamu juga bukan karena kamu ngapa-ngapa, karena kamu ada makanya aku tau kamu.
Dan, pada akhirnya kamu tetep ga perlu membuktikan apapun ke aku?
Tidak membuktikan sesuatu kepada orang lain itu bukan berarti tidak melakukan sesuatu untuk orang lain.
Iya, melakukan sesuatu untuk orang lain itu ga salah kan? Hanya saja kita ga perlu memaksakan orang itu untuk tau apa yang kita lakukan. Kalau kita membuktikan sesuatu ke orang lain, endingnya cuman dapet apa, pujian, tepuk tangan, dibalas, puas sebentar, bangga, tropi, bahagia, habis itu udah. Yaa, kaya membanggakan orang tua itu memang bagus, tapi ada yang lebih dari itu, bahkan ada yang lebih dari kebahagiaan.
Membuktikan sesuatu kepada manusia itu seperti tidak ada artinya.
Hmm, bener wan?
Mungkin.
Setauku, aku tau kamu juga bukan karena kamu ngapa-ngapa, karena kamu ada makanya aku tau kamu.
Dan, pada akhirnya kamu tetep ga perlu membuktikan apapun ke aku?
Tidak membuktikan sesuatu kepada orang lain itu bukan berarti tidak melakukan sesuatu untuk orang lain.
Iya, melakukan sesuatu untuk orang lain itu ga salah kan? Hanya saja kita ga perlu memaksakan orang itu untuk tau apa yang kita lakukan. Kalau kita membuktikan sesuatu ke orang lain, endingnya cuman dapet apa, pujian, tepuk tangan, dibalas, puas sebentar, bangga, tropi, bahagia, habis itu udah. Yaa, kaya membanggakan orang tua itu memang bagus, tapi ada yang lebih dari itu, bahkan ada yang lebih dari kebahagiaan.
Jiwa Awan_Luna
Awan,
bahkan kamu itu bukan belahan jiwa,
kita ada dalam satu jiwa
itulah mengapa, menangis di depanmu aku sudah tidak bisa
hanya bisa memeluk
agar jiwa tetap bertahan dalam satu, tidak tercecer, tidak terpecah, tidak berpisah
Awan,
bahkan kamu itu bukan belahan jiwa,
kita ada dalam satu jiwa
itulah mengapa, menangis di depanmu aku sudah tidak bisa
hanya bisa memeluk
agar jiwa tetap bertahan dalam satu, tidak tercecer, tidak terpecah, tidak berpisah
Awan,
Trauma
Biarkan saja rindu ini tersisih,
menjadi jejak yang tercecer dalam rekam kehidupan banyak orang
meski hanya aku yang mengalaminya
karena rindu ini bukan yang seharusnya
salah, karena tidak bisa menjaga hati
salah, karena menitipkan hati bukan pada pendermanya
salah, karena salah sangka,
karena bukan seharusnya hati ini terbawa kemana-mana
tuhan diam saja membiarkanku menari-nari bebas tanpa batas
menari bebas tanpa prioritas sebagaimana yang tercantum dalam mushaf
nyatanya duniaku tak seluas bumi terhampar
tiba dimana saat aku sedang menari, aku menabrak sebuah kaca, bening, tipis
di luar sana manusia menari-nari sepertiku,
penuh ekspresi, tanpa kendali
saat itu aku tertunduk malu, berjalan mundur, terpejam sesaat
rekaman kebodohan kembali terputar, sekilas-sekilas, membawa diri pada episode-episode traumatis
saat aku mulai kembali ingat,
bahwa memang aku tak mampu
bahwa memang aku tak berdaya
dan aku hanya manusia
dan aku lah manusia
menjadi jejak yang tercecer dalam rekam kehidupan banyak orang
meski hanya aku yang mengalaminya
karena rindu ini bukan yang seharusnya
salah, karena tidak bisa menjaga hati
salah, karena menitipkan hati bukan pada pendermanya
salah, karena salah sangka,
karena bukan seharusnya hati ini terbawa kemana-mana
tuhan diam saja membiarkanku menari-nari bebas tanpa batas
menari bebas tanpa prioritas sebagaimana yang tercantum dalam mushaf
nyatanya duniaku tak seluas bumi terhampar
tiba dimana saat aku sedang menari, aku menabrak sebuah kaca, bening, tipis
di luar sana manusia menari-nari sepertiku,
penuh ekspresi, tanpa kendali
saat itu aku tertunduk malu, berjalan mundur, terpejam sesaat
rekaman kebodohan kembali terputar, sekilas-sekilas, membawa diri pada episode-episode traumatis
saat aku mulai kembali ingat,
bahwa memang aku tak mampu
bahwa memang aku tak berdaya
dan aku hanya manusia
dan aku lah manusia
Jumat, 31 Januari 2014
sederhana
Masih sesederhana biasanya..
Tidak banyak kejujuran yang terungkap
Rasa yang menguap dalam ekspresi tak banyak arti, rasa yang ada tp tak punya nama atau tak termakna
Rasa yang sederhana tak menuntut banyak perkara
Tapi tak kunjung habis meski sudah banyak kata terucap
Menikmati awan
Sekali lagi dalam bentuk seni tanpa banyak perkara
Hanya pulasan putih sederhana di langit yang terpapar cahaya surya
angin mengarak, entah apa yang terarak, seiring daun kering yang rapuh menghias pohon tua nan kokoh
Luna duduk mengamati dari bawah naungannya..
Awan tetap disana,
Keduanya didalam dunia penuh rasa yang sederhana
Rasa yang ternyata terarak angin
Ke sana kemari makin memenuhi ruang-ruang kosong tanpa batas itu
Tapi sederhana
Tidak akan pernah mempersulitnya
Semoga
Tidak banyak kejujuran yang terungkap
Rasa yang menguap dalam ekspresi tak banyak arti, rasa yang ada tp tak punya nama atau tak termakna
Rasa yang sederhana tak menuntut banyak perkara
Tapi tak kunjung habis meski sudah banyak kata terucap
Menikmati awan
Sekali lagi dalam bentuk seni tanpa banyak perkara
Hanya pulasan putih sederhana di langit yang terpapar cahaya surya
angin mengarak, entah apa yang terarak, seiring daun kering yang rapuh menghias pohon tua nan kokoh
Luna duduk mengamati dari bawah naungannya..
Awan tetap disana,
Keduanya didalam dunia penuh rasa yang sederhana
Rasa yang ternyata terarak angin
Ke sana kemari makin memenuhi ruang-ruang kosong tanpa batas itu
Tapi sederhana
Tidak akan pernah mempersulitnya
Semoga
Rabu, 01 Januari 2014
biasa, manusia
Kapan terakhir kali aku ingat dosa
Yang ku ingat berkali kali hanya manusia..
Dan tidak lebih sering mengingat tuhan
Jika sudah begini, seakan tidak ada kata yang pantas untuk kembali.
Untungnya aku tak punya kuasa, jadi setidaknya aku tak perlu ragu untuk merasa malu, karena minta ini itu..
Iya, malu.
Aku keluarkan baju dari lemari karena sudah tak suka, suatu hari aku temukan lagi baju bekasku itu, aku pakai lagi, masukkan lemari lagi, jika sudah tak suka lagi keluarkan lagi.
Entah ini gangguan mental nomor berapa,
Bagaimana cara menyembuhkannya,
Malu dengan tingkah bodohku.
Yang ku ingat berkali kali hanya manusia..
Dan tidak lebih sering mengingat tuhan
Jika sudah begini, seakan tidak ada kata yang pantas untuk kembali.
Untungnya aku tak punya kuasa, jadi setidaknya aku tak perlu ragu untuk merasa malu, karena minta ini itu..
Iya, malu.
Aku keluarkan baju dari lemari karena sudah tak suka, suatu hari aku temukan lagi baju bekasku itu, aku pakai lagi, masukkan lemari lagi, jika sudah tak suka lagi keluarkan lagi.
Entah ini gangguan mental nomor berapa,
Bagaimana cara menyembuhkannya,
Malu dengan tingkah bodohku.
Langganan:
Postingan (Atom)