Saya semakin mengerti tentang perbedaan itu.
***
Di suatu pagi saya menemukan seorang yang jauh dari kata ideal bagi saya, perilakunya aneh, berlebihan untuk usianya yang paruh baya, sama sekali tidak terkesan bijaksana atau berwibawa. Saya memandang sebelah mata, meskipun saya tidak mengatakan keburukannya, tapi berita tentang jejak perilaku yang tidak terpuji darinya pernah saya dengar, saya diam saja ketika hari itu ada yang membahas tentang orang itu, dia, garong kelas teri dan pemabuk kecut itu namanya Pram.
Beberapa kali Pram seakan mencari perhatian, berbicara dengan lantang seakan menunjukkan bahwa ia orang penting dan pandai bergaul. Saya berusaha tidak menguping, atau menggubris, tapi saya cukup terganggu dengan orang seperti Pram itu, bagi saya orang yang low profile, tenang dan komunikatif itu mungkin lebih enak dilihat.
Kami bertemu sampai berulang kali di hari itu, sampai saya melihat bahwa dia ternyata datang bersama anaknya si Ilyas, usianya mungkin sudah setahun lebih, padahal bicaranya sudah cukup bisa dimengerti. Saya melihat pertumbuhan yang tidak normal pada kaki Ilyas, sudah begitu Pram sesekali terlihat meninggalkan Ilyas glesotan di tengah jalan, si Pram sibuk dengan handphonenya dan bersliweran di depan saya. Saya kembali berfikiran buruk tentang Pram, apa yang si Pram ini lakukan hingga membuat anaknya mengalami hambatan perkembangan seperti itu. Ya, catatan buruk yang pernah saya dengar dari orang-orang membayangi saya, membias persepsi saya tentang Pram.
Pram mungkin memang sangat sibuk kala itu, sehingga Ilyas lebih sering terlihat mondar mandir sendiri di jalanan yang berbatu, saya sendiri khawatir lututnya lecet. Ilyas merangkak sampai di tangga menuju basement, ketika Pram masih sibuk mengobrol dengan rekan kerjanya. Saya membuntuti Ilyas dan menuntunnya agar kembali ke atas, saya membujuknya naik dengan mengajaknya bermain karena saya tau Pram pasti tidak ingin melihat saya menggendong Ilyas, begitu juga si kecil Ilyas, ia pasti tidak suka saya gendong, maka saja ajak dia balapan hingga sampai ke atas. Meskipun saya tidak respek dengan ayahnya, tapi saya tidak bisa membiarkan Ilyas ini terjatuh menggelinding bebas di tangga.
Di tengah perjalanan menuntun Ilyas, Pram datang menghampiri lalu berkata "biarin aja mbak, biar dia berani dan terangsang kakinya."
Iya, saya mengerti dengan keinginan Pram, saya pun menerimanya pendapatnya wajar, saya hanya ingin tidak tega jika harus melihat Ilyas sakit karena jatuh. Berikutnya pemandangan menjadi semakin aneh, saya memutuskan untuk meninggalkan Pras dan Ilyas, cukup melihat interaksi mereka dari jauh. Saat itu Pram menghadap si Ilyas dan berkata "ayo, jatuh aja, jangan jadi pengecut,". Kalimatnya sedikit berlebihan menurut saya, sejak tadi bicaranya memang berlebihan. Ilyas diam saja melihat tangga di bawah yang kurang lebih tingginya 70 cm. Ilyas urung melompat dan kembali berjalan, Pram membuntuti dari belakang. Jika Ilyas benar melompat, lantas terjadi sesuatu yang buruk padanya, bagaimana?, kira-kira begitu pikir saya.
Sekali waktu saya melihat Pram menendang pelan kaki Ilyas yang terus merangkak di jalanan kasar, seraya membentak "ayo!". Hmm, tidak harus ditendang juga kan, bukan latihan militer juga, pikir saya sejenak. Tapi Ilyas terlihat tidak peduli dan terus saja merangkak ke depan, berhenti atau sekedar menangis berkeluh. Seketika pemikiran saya berubah, di sini saya melihat sebuah kecocokan dari diri mereka. Pram mungkin adalah karakter yang dibutuhkan oleh Ilyas. Bisa dibilang Ilyas mungkin memang membutuhkan Ayah yang memiliki semangat lebih, yang bisa bicara 'alay', yang tingkahnya bisa menarik perhatian orang lain seperti Prasm. "Iya nak, ayah tau kamu pasti diperhatikan orang dan ayah siap untuk itu, bahkan tanpa perlu menyiapkan diri" saya melihat kata-kata itu ada di wajah Pram, di wajah menyebalkan Pram. Siapapun dia, apapun latar belakangnya, Pras hanya berusaha menjadi ayah yang terbaik terlepas dari benar tidak tindakannya di mata orang, ia hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya. Ia, tidak ingin punya anak yang mentalnya rusak, meski fisiknya rusak. Sejujurnya saya sempar berfikir, sepertinya sakitnya Ilyas bukan sakit yang dengan mudah disembuhkan dengan terus dirangsang. Iya, sepertinya memang tidak, tapi mentalnya memang tidak boleh sakit, ia harus tetap melanjutkan hidup dan berdiri dengan kakinya sendiri. Pram pasti tau itu, Pram pasti lebih tau daripada saya, Pram tau apa yang dilakukannya, dan sekarang saya belajar untuk lebih tau itu.
Tidak ada karakter ideal, nyatanya karakter yang saya pandang sangat tidak ideal itu dibutuhkan oleh orang lain.
Kata orang, semua orang punya penyakit, semua orang mungkin punya masalah, semua orang mungkin bermasalah. Tapi orang yang bermasalah pun bisa menjadi orang yang dibutuhkan oleh orang lain. Orang yang kamu pikir tidak baik pun, bisa jadi adalah sumber nilai kebaikan bagi orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar