Si Emon, pedofil melankoli yang selalu menulis dayeri setelah mencabuli korbannya. Apa mungkin dia bakal ditulis kaya gini.
"dear dayeri. hari ini aku seneng den lagi. aku dapet korban lagi, anaknya lucu, agak kebiji-bijian gitu deh. eh, udah dulu ya, aku mau jalan-jalan nyari korban lagi"
***
"yang jelas dia punya cerita di sana" kataku menimpali.
***
Kriminal selalu punya cerita, kenapa dia begitu, apa alasannya berbuat begitu, terlepas dari benar tidaknya perilaku mereka. Jika menyangkut perilaku manusia, aku terkadang tidak berfikir tentang salah benarnya, karena kita mengatakan hal yang sudah terlanjur terjadi atau tengah terjadi, aku malah berfikir tentang mengapa mereka begitu, mereka sedang sakit apa, bagaimana ceritanya, bagaimana mengobatinya, dan pertanyaan lainnya.
Emon, jelas dia merusak banyak hal, apa dia berniat merusak? Dia sendiri jelas rusak. Lantas bagaimana melogika ini, bagaimana bisa orang yang bahkan tidak bisa membedakan tentang hal benar dan salah itu rusak? Korbannya jelas trauma dan harus mendapat penanganan yang tepat, jelas tidak bisa kehilangan memori begitu saja, apalagi bertahan hidup ditengah manusia yang senang menanam hal tabu, takut akan kenyataan dan kejujuran, mereka benar-benar harus dipelihara dengan tepat agar Emon tidak beranak pinak di diri mereka. Pedofilnya Emon memang harus dihabisi, tapi Emonnya sendiri bagaimana hidupnya nanti.
Memperbaiki sesuatu bukan benar-benar pekerjaanku, tapi aku melihat perbaikan dapat dilakukan dengan melihat masalalu. Kamu perlu tau apa yang salah dari adonan kuemu hingga akhirnya kuemu itu jadi bantet, karena kamu tidak ingin membuat kue bantet untuk yang kedua kalinya. Perjalanan hidup itu rumit, tapi tersistematis untuk membentuk sebuah karakter tertentu. Bicara tentang sebab mengapa Emon begitu, apa karena trauma masa lalu? atau karena ada abnormalitas neurologis dikepalanya?
***
Aku melihat anak kecil seperti suatu hal baru, proyek masa depan, dan aku turut membangunnya. Maka di depan mereka aku menampakkan wajah semangat, maka ketika mereka melihatku aku tersenyum riang bergerilya membelalak mata, maka berjanji dengan mereka aku berusaha tak mengingkari, tidak gampang, karena aku bukan orang yang semangat, bukan orang yang benar-benar selalu gembira, bukan orang yang selalu tepat janji, tapi basis itu harus dibangun. Bukan berarti mereka tidak boleh melihat hal pahit, mereka tentu boleh melihatnya, dan bantu mereka meraba hal positif di tengah pahit itu agar mereka tetap bisa bangun dan berdiri di sana.
Karena aku ingat masa-masa kecilku yang traumatis, ketika melihat adegan ini adegan itu, masih teringat jelas. Kata "jangan", gambaran tentang perilaku yang "jangan dilakukan", jika begini maka begini, jika begitu maka begitu, semua itu memodifikasi perilaku, kumpulan masa lalu itu membuatku sekarang berperilaku begini, menjadi aku yang begini. Begitu caranya membangun, menurutku, lama, sulit, tapi gunakan hati, dan harus maksimal, jika memang tidak ingin kuenya bantet.
Emon juga hidup di dunia yang sama denganku, dengan pengalaman yang berbeda, maka kami kemudian meninggali dunia kami sendiri-sendiri. Entah apakah ada hal traumatis yang dialaminya, apakah ada yang peduli? Ada, pasti. Tapi beberapa orang lebih suka menghakimi kriminal itu, dengan niat membalas? atau sekadar membuat mereka terkurung agar tidak bisa mengulangi perbuatannya? atau dalam upaya agar mereka jera? Aku tidak sepenuhnya mengerti penjara. Semua orang punya luka, semua orang punya penyakit, semua orang pernah terjatuh, semua orang itu orang, manusia, sama seperti aku, ada baik ada buruknya, aku pun sakit dan tentu ingin sembuh.
Apa dunia hanya akan terus berisi orang sakit, sembuh, sakit, sembuh, lantas cita-cita untuk menciptakan kesehatan jiwa secara masal itu hanya lelucon optimis? Jika iya, maka dunia sebenarnya seperti sebuah lahan, hanya sebuah lahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar