Hari ini setelah melihat gitarku yang tak terurus di pojok ruang aku kembali teringat pada Maa.
Gitar itu diberikan Maa, bukan, sebenarnya aku yang merebutnya, jika ada senar yang mulai meracau aku kembalikan gitar itu kepada Maa, "nih, benerin!"
Gitar menjadi bahan yang selalu jadi motif untuk berinteraksi dengan Maa.
Maa sebenernya tidak lihai, aku sempat bertanya-tanya kenapa ia rela membeli gitar yang cukup mahal itu, sementara ia sangat jarang memainkannya.
Setauku, Maa memang selalu punya alasan aneh saat membeli barang. Dia selalu bangga dengan barang yang dibeli dengan alasan yang tidak sewajarnya. Seleranya tidak seperti manusia biasa, dan aku lebih sering memandangnya sebagai suatu keanehan. Biasanya aku bisa memahami keanehan orang lain, tapi untuk Maa, dia benar-benar aneh, aku sulit mengerti alasan-alasannya. Tapi meski begitu, Maa selalu mencintai barang-barangnya, tidak boleh dibuang meski sudah tampak usang dan lama tidak dipegang, atau justru selalu dielus-elus setiap hari. Tapi untuk gitar ini, sungguh aku jauh lebih sulit mengerti maksudnya. Aku mulai berpikir dia mungkin pernah diculik oleh makhluk astral, kemudian mengalami pengalaman spiritual yang tidak semestinya, hah, semoga saja tidak.
Sudah lama aku tidak bertemu Maa, dan gitar itu pun hanya aku diamkan saja.
Tampilkan postingan dengan label Maa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maa. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Maret 2014
Minggu, 16 Maret 2014
Maa
Perkenalkan,
namanya Maa, lelaki yang memilih jalan keras untuk hidupnya, bahkan sejak ia belum tau apa itu hidup.
Meskipun tidak ada tawuran, tapi nakal selalu jadi pilihan. Minuman keras pun pernah dipegang, pukul-pukulan jangan tanya, meskti tak banyak hitungannya, tapi tentu ada. Secara akademis dia tak pandai, tidak cerdik, tapi liat saja, ia punya kerja keras yang tidak terkira, dan dia, manusia sosial antik.
Temannya ada dimana-mana, bahkan orang yang tidak dikenal pun bisa tiba-tiba jadi temanya. Cara bertemannya yang antik, karena tidak semua beruntung bisa terpilih jadi temannya, dan aku pun teman antiknya.
namanya Maa, lelaki yang memilih jalan keras untuk hidupnya, bahkan sejak ia belum tau apa itu hidup.
Meskipun tidak ada tawuran, tapi nakal selalu jadi pilihan. Minuman keras pun pernah dipegang, pukul-pukulan jangan tanya, meskti tak banyak hitungannya, tapi tentu ada. Secara akademis dia tak pandai, tidak cerdik, tapi liat saja, ia punya kerja keras yang tidak terkira, dan dia, manusia sosial antik.
Temannya ada dimana-mana, bahkan orang yang tidak dikenal pun bisa tiba-tiba jadi temanya. Cara bertemannya yang antik, karena tidak semua beruntung bisa terpilih jadi temannya, dan aku pun teman antiknya.
Langganan:
Postingan (Atom)