Perkenalkan,
namanya Maa, lelaki yang memilih jalan keras untuk hidupnya, bahkan sejak ia belum tau apa itu hidup.
Meskipun tidak ada tawuran, tapi nakal selalu jadi pilihan. Minuman keras pun pernah dipegang, pukul-pukulan jangan tanya, meskti tak banyak hitungannya, tapi tentu ada. Secara akademis dia tak pandai, tidak cerdik, tapi liat saja, ia punya kerja keras yang tidak terkira, dan dia, manusia sosial antik.
Temannya ada dimana-mana, bahkan orang yang tidak dikenal pun bisa tiba-tiba jadi temanya. Cara bertemannya yang antik, karena tidak semua beruntung bisa terpilih jadi temannya, dan aku pun teman antiknya.
Catat sebelumnya, Maa itu tidak banyak bicara, ia tertutup, tapi punya banyak teman, itu antiknya yang nomor 1.
Maa waktu itu berusia 20 tahun, ketika aku berumur sekitar 14 tahun. Kami duduk di tepi lapangan, disana memang ramai orang, tapi perbincangan antar kami hanya jadi milik kami sendiri. Saat itu aku bercerita tentang masalah yang kebetulan melibatkan kami berdua sebagai pemeran sampingan, yang cukup terganggu dengan hingar bingar manusia di sekitar kami.
"Aku bosen, sumpek, makanya pengen keluar"
itu memang alasanku mengajak Maa main keluar. Aku yang 14 tahun hanya tau rasa kesal, Maa diam mendengarkan, aku berkeluh kesah.
"Iya memang," sahutnya kemudian.
"Dan aku berada di posisi yang sulit, aku berada di tengah-tengah masalah ini, bingung mau membela yang mana" lanjutnya kemudian.
Sinar matanya mulai berubah. Maa hanya memiliki sedikit sorot mata yang benar-benar menunjukkan jika dia adalah manusia yang hidup dengan gerilya, ia biasa saja, lebih sering terlihat jenuh, dan ketika sedih, terlihat beberapa garis di sekitar matanya, seakan-akan saat itu matanya mengungkapkan kesedihan lebih dalam dari yang dikatakan bibirnya yang kehitaman. Dan saat ini matanya terlihat seperti itu.
Aku jadi diam mendengarkan, aku baru sadar jika dalam masalah ini ia berada di posisi yang lebih berat daripada aku. Tapi, ceritanya kemudian jadi kemana-mana, tentang sulitnya kehidupan di negeri tetangga beberapa tahun belakangan, tentang kerja kerasnya untuk keluarga, tentang kesepiannya, tentang kesulitannya, dan tidak ada tempat untuk berbagi, sementara yang lain hanya melihatnya sebagai orang yang sukses bekerja diluar, lalu pulang membawa uang.
Aku tak begitu mengenal keluarga Maa, tapi setauku keluarga Maa sedang mengalami kesulitan ekonomi, makannya Maa segera bekerja setelah selesai di pendidikan menengahnya. Ayahnya juga sudah tua, ibunya tidak bekerja.
Selama ini aku melihat Maa sebagai orang yang apa adanya, bekerja karena memang harus bekerja.
Tapi ia terlihat sangat sedih, ternyata memang ada banyak cerita di balik sinar matanya yang biasa saja, dan saat itu ia mulai menceritakaan kebiasaannya menenggak minuman keras.
Apa? Minuman keras?
Aku hanya anak 14 tahun yang tidak banyak berprasangka, tapi ternyata,selama ini aku berteman dan dengan orang yang seperti ini, perilakunya lebih jauh dari yang ku bayangkan. Entah bagaimana ekspresiku, aku mencoba tetap biasa menatap matanya, mencoba tetap terbuka untuk semua ceritanya, meski hatiku menjerit "Maa, kenapa kau sampai melakukan hal itu?"
Maa tetap melakukan ceritanya, sejujurnya saat itu aku mulai berprasangka buruk tentang Maa.
Tapi aku yakin, ada sisi baik Maa yang tidak hilang sejak dulu.
Aku mulai canggung, kami sudah banyak bercerita, Maa sepertinya juga mulai sadar, sejak tadi ia bercerita pada anak tanggung yang tidak banyak tau. Aku mengajaknya pulang, aku memang tidak memberi saran, tapi aku berharap ia akan baik-baik saja selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar