Kamis, 21 Agustus 2014

Taman Antah Berantah


10 menit lagi, mereka harus pergi dari taman antah berantah ini, setidaknya hanya itu waktu yang disisakan oleh Kame jika menggunakan mesin waktunya. Waktu yang terbatas membuat mereka hanya dapat menggunakan mesin waktu itu untuk berwisata, memenuhi kebutuhan spiritual di tempat sepi, hanya mereka dan hamparan kehidupan alam tanpa prasangka manusia, menyatukan diri mereka yang berantakan di taman antah berantah yang steril dari polusi semesta, entah mereka tengah di planet mana, atau di waktu yang mana, tapi permukaan langit masih sama seperti yang tertampakkan di bumi selatan.

"kenapa aku pikir waktuku masih banyak?"
"mungkin karena kamu bisa melompat-lompat dari satu abad ke abad lainnya."

Luna malah tersenyum mendengar jawaban Awan.

Ini waktunya, Awan hanya mengamati saat Luna mulai menekan kedua kepalanya dengan jemari, lalu mulai menangis menitkkan air mata, Awan, masih melihat dengan sepenuhnya jiwa yang mulai terbawa, matanya menyorot dalam, kedalam diri, kedalam keteduhan, seperti melihat air yang jernih seiring air mata yang mulai menetes dari pelupuk mata Luna, basah.

Minggu, 03 Agustus 2014

Sepi, aku lalu

Sepi

Benarkah ini keikhlasan, yang lalu membawa pada sepi.
Hai Loki, aku yakin bukan kamu yang aku cari
Aku tidak sepenuhnya ikhlas, ada noda-noda dalam bentuk enggan, bantahan, ketakutan, teriakan, dalam celah yang terhimpit di sudut ruang, tapi tertutup dalam kata "ya sudah jalani saja semampunya", "ya sudah, tawakal saja", "ya sudah, biarkan beliau hidup dengan haknya"

Aku masih tetap seorang perindu, hanya aku bukan orang yang tengah bergerilya atas cinta, meski aku hidup di atas selapis tabirnya.

Tuhanku yang semoga aku tak pernah menduakannya atau melebihkan jumlahnya tanpa aku terbutakan atas kebesarannya, Aku dan Dia, Aku dan celah-celah yang ku cari antara aku dan Dia sebagai pantas pantas atas keberadaanku sebagai manusia tanpa aku perlu terjauhkan darinya.

Hah, bodoh, seakan aku bisa mengaturnya, seakan punya kuasa, tapi memang begitu bukan, aku bodih yang sombong, bahkan aku masih bodoh dan sombong ketika aku seakan tau bahwa aku bodoh dan sombong.

Lalu, aku, di sekian detik kehilangan aku, aku lalu, aku habis dalam kata-kataku. Aku...

Aku dalam sepi menghitung hitung seberapa benarnya aku di sekali waktu, meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar tau, tapi aku harus tetap begitu selama wajahku masih menghadap wajah bumi, selama wajahNya masih terus mengawasi (atau yang ku pikir mwngawasi)

Saat sepi ini biar aku serahkan kepada yang berhak atas Aku