Kamis, 21 Agustus 2014

Taman Antah Berantah


10 menit lagi, mereka harus pergi dari taman antah berantah ini, setidaknya hanya itu waktu yang disisakan oleh Kame jika menggunakan mesin waktunya. Waktu yang terbatas membuat mereka hanya dapat menggunakan mesin waktu itu untuk berwisata, memenuhi kebutuhan spiritual di tempat sepi, hanya mereka dan hamparan kehidupan alam tanpa prasangka manusia, menyatukan diri mereka yang berantakan di taman antah berantah yang steril dari polusi semesta, entah mereka tengah di planet mana, atau di waktu yang mana, tapi permukaan langit masih sama seperti yang tertampakkan di bumi selatan.

"kenapa aku pikir waktuku masih banyak?"
"mungkin karena kamu bisa melompat-lompat dari satu abad ke abad lainnya."

Luna malah tersenyum mendengar jawaban Awan.

Ini waktunya, Awan hanya mengamati saat Luna mulai menekan kedua kepalanya dengan jemari, lalu mulai menangis menitkkan air mata, Awan, masih melihat dengan sepenuhnya jiwa yang mulai terbawa, matanya menyorot dalam, kedalam diri, kedalam keteduhan, seperti melihat air yang jernih seiring air mata yang mulai menetes dari pelupuk mata Luna, basah.


Tak terhitung, apa saja yang telah telah mereka lintasi dalam waktu, seandainya mereka punya rekaman tentang kejadian-kejadian itu, tapi itu tak akan banyak berarti bagi mereka yang hanya manusia. Mereka, memejam, mulai melihat semua dengan cepat, seperti seorang yang tengah duduk di kereta berkecepatan cahaya, yang terlewat hanya garis-garis warna dari banyak panorama, kisah yang hanya menuju pada satu arah.

Masing-masing, masih, tenggelam, saat waktu tak banyak memberikan peluang, Awan membuka mata sampai bayangan itu jatuh pada punggung wanita yang mengenakan blus cokelat muda selutut dengan rambut mengurai tak beraturan dan bandana yang menghias tanpa  tujuan, Awan ingat waktu telah hampir terhenti untuk mereka saat ia menyadari dirinya adalah alarm bagi liarnya si tenang Luna, Ia berjalan mendamping Luna yang tadi berada jauh darinya, memegang ujung jari  Luna yang tak merasa,.. lalu..mereka kembali, saat Luna masih menangis dan terduduk di tengah padang ilalang seperti biasa.

Awan diam memperhatikan, entah apa saja yang telah dilihat Luna, yang jelas belum cukup waktu untuk melepas rindu itu, tapi manusia begitu, tak tau banyak tentang batas waktu.
Awan, seperti selalu siap untuk esok pagi menghabisi tugasnya di bumi, Luna, seperti selalu ingin esok terhabisi

Surat di depan jendela esok paginya :
setiap orang merindu dengan cara yang berbeda, lalu mereka hidup dengan cara yang berbeda, rindu dalam riuh, rindu dalam diam, kerinduan yang paling dalam.

Selesai membaca Awan menempelkan surat kaleng (yang sudah pasti dari Luna) itu di dinding kamar, bersama lembaran surat lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar