10 menit lagi,
mereka harus pergi dari taman antah berantah ini, setidaknya hanya itu waktu
yang disisakan oleh Kame jika menggunakan mesin waktunya. Waktu yang terbatas
membuat mereka hanya dapat menggunakan mesin waktu itu untuk berwisata,
memenuhi kebutuhan spiritual di tempat sepi, hanya mereka dan hamparan
kehidupan alam tanpa prasangka manusia, menyatukan diri mereka yang berantakan
di taman antah berantah yang steril dari polusi semesta, entah mereka tengah di
planet mana, atau di waktu yang mana, tapi permukaan langit masih sama seperti
yang tertampakkan di bumi selatan.
"kenapa aku
pikir waktuku masih banyak?"
"mungkin
karena kamu bisa melompat-lompat dari satu abad ke abad lainnya."
Luna malah
tersenyum mendengar jawaban Awan.
Ini waktunya, Awan hanya
mengamati saat Luna mulai menekan kedua kepalanya dengan jemari, lalu mulai
menangis menitkkan air mata, Awan, masih melihat dengan sepenuhnya jiwa yang
mulai terbawa, matanya menyorot dalam, kedalam diri, kedalam keteduhan, seperti
melihat air yang jernih seiring air mata yang mulai menetes dari pelupuk mata
Luna, basah.
Tak terhitung, apa
saja yang telah telah mereka lintasi dalam waktu, seandainya mereka punya
rekaman tentang kejadian-kejadian itu, tapi itu tak akan banyak berarti bagi
mereka yang hanya manusia. Mereka, memejam, mulai melihat semua dengan cepat,
seperti seorang yang tengah duduk di kereta berkecepatan cahaya, yang terlewat
hanya garis-garis warna dari banyak panorama, kisah yang hanya menuju pada satu
arah.
Masing-masing,
masih, tenggelam, saat waktu tak banyak memberikan peluang, Awan membuka mata
sampai bayangan itu jatuh pada punggung wanita yang mengenakan blus cokelat
muda selutut dengan rambut mengurai tak beraturan dan bandana yang menghias
tanpa tujuan, Awan ingat waktu telah
hampir terhenti untuk mereka saat ia menyadari dirinya adalah alarm bagi
liarnya si tenang Luna, Ia berjalan mendamping Luna yang tadi berada jauh
darinya, memegang ujung jari Luna yang
tak merasa,.. lalu..mereka kembali, saat Luna masih menangis dan terduduk di
tengah padang ilalang seperti biasa.
Awan diam
memperhatikan, entah apa saja yang telah dilihat Luna, yang jelas belum cukup
waktu untuk melepas rindu itu, tapi manusia begitu, tak tau banyak tentang
batas waktu.
Awan, seperti
selalu siap untuk esok pagi menghabisi tugasnya di bumi, Luna, seperti selalu
ingin esok terhabisi
Surat di depan
jendela esok paginya :
setiap orang
merindu dengan cara yang berbeda, lalu mereka hidup dengan cara yang berbeda, rindu
dalam riuh, rindu dalam diam, kerinduan yang paling dalam.
Selesai membaca Awan menempelkan surat kaleng (yang sudah
pasti dari Luna) itu di dinding kamar, bersama lembaran surat lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar