Minggu, 23 Februari 2014

Dan pada Pertemuan Terakhir

dan pada pertemuan terakhir

sekali lagi tidak ada perilaku tanpa alasan yang kuat, semakin kecil alasannya, maka semakin rendah tingkat kepentingan perilakunya. Maka bersungguh sungguhlah untuk yang perlu kesungguhan, dan, rasakan keringanan itu, ketika yang tak berarti memang tak perlu dapat banyak peluang.

dan pada pertemuan terakhir,

aku tertawa senang setelah melihat wajahnya sebal, dan setelah melihat wajahnya sebal tidak ingin lakukan apa-apa, selanjutnya aku baik-baik saja.

Sabtu, 22 Februari 2014

Hiperaktivitas

Hiperaktif?

kenapa hiperaktif? kenapa aku suka melihat orang hiperaktif dan bisa terhibur dengannya?

Hiperaktif, bergerak ke sana kemari tanpa fokus yang jelas, seperti energinya tidak pernah habis.

Aku selalu melihat orang hiperaktif sambil tersenyum riang, atau paling tidak riang dalam hati sambil menyimak gerak-geriknya yang kemana-mana, seperti menonton sebuah pertunjukan. Tapi bukan sekedar senang yang seperti itu, senang ini sepertinya bukan pekerjaan kognisi, bukan pekerjaan logika, lalu apa ya?

"Kenapa dia harus terburu-buru?" aku selalu menanyakan itu, tapi aku menanyakannya sambil tersenyum senang. mungkin jika mereka benar aku tanya mereka pun bingung menjawabnya, mungkin, karena masih jadi pertanyaan bagiku, kenapa terburu-buru.

Kenapa tidak berhenti bicara? Kenapa bicara dengan cepat? Kenapa setiap bicara harus bergerak? Kenapa ketika tidak bicara dia bergerak? Kenapa tidak bisa diam sebentar? Kenapa saat yang lain duduk dia berputar putar di ruangan?

Rabu, 19 Februari 2014

Hanya Awan Luna

Awan pernah tidak datang untuk waktu yang lama,
saat itu, bisa kamu bayangkan apa yang bisa di lakukan Luna,
sehari-hari menyempatkan waktu melintas sabana,
meski tau awan tidak di sana, ia tetap ke sana, hanya untuk melihat jejaknya.
Luna tidak tau apakah ia sedih atau gelisah, atau memang ia baik-baik saja,
yang jelas tidak ada perasaan lega, karena tidak ada teman bicara, selain itu semuanya biasa, atau ia membuatnya biasa
ia tetap berusaha mengikat diri, awan pergi, bukan berarti ia tak utuh, ia utuh sejak awal ia mengerti bahwa ia hidup di atas bumi, paling tidak ia berdiri di atas kakinya sendiri dan mengumpulkan serpihan diri sendiri, dan awan tidak pernah mengurangi itu

jadi Luna tetap Luna, manusia tahun 60an yang tidak pernah menjelma menjadi lainnya walaupun tersasar, berada di waktu yang tidak semestinya. Meski waktu bisa jadi ilusi, tapi awan bukan ilusi, dan tidak pernah membawanya pada halusinasi apapun

Jadi begitu, Luna masih disana mengumpulkan serpihan diri seperti biasanya, menemui alam untuk menemukan dirinya,
tapi tetap tidak ada perasaan lega.

"dan biarkan Awan disana tetap menjadi Awan" katanya saat senja menjelang sambil berkemas memasukkan buku ke ransel rajutan, lalu berjalan pulang.

Langit gelap, saat kemudian bintang bermunculan di langit tak berawan, bukan, langit dengan sedikit awan, atau, langit dengan awan yang tak terlihat

Di sebuah pendopo pinggiran kota, Awan di sana, bicara tentang hakikat dunia kepada manusia lainnya, manusia dimasanya.
Sesaat awan diam, jika Luna disana dia mungkin kan berkata, "hei, wan, jangan coba-coba jadi bintang"

"tenang lun, aku dan kamu hanya luna dan awan, bukan bintang" katanya sambil menyisir langit di sekitar, mencari bulan.

Senin, 17 Februari 2014

Entah Apa

Dan apa ini, yang bisa membuat manusia tak ke mana-mana. Yakin aku berkembang tapi yang 'entah apa' menggerogoti dengan ribuan gigi yang lebih tajam
Lalu racunnya membuatmu berhalusinasi akan sepenuhnya dunia
Bertahan dari 'entah apa' biar tak mati sia-sia.
Karena konyol jika habis digerogotinya, belum mati pun bisa mati
Bertahan dari 'entah apa'

Jangan, seandainya

Mungkinn aku bisa terima semua kenyataan yang ada
Tapi jangan sekali kali katakan "seandainya" terlebih untuk suatu yang buruk
Karena meski mungkin aku bisa menerima, aku tidak mengharapkannya.
Jangan katakann "seandainya" terlebih untuk suatu yang buruk, meski itu tentang hal yang telah lalu
"Seandainya.."
Bahkan aku tidak sanggup mencontohkannya.
Mengingat ucapan itu doa, meski Tuhanku maha tau niatnya

Minggu, 16 Februari 2014

Mata Kita

Dan di mataku kamu lihat cahaya meski tidak ada hingar bingar di sekitarnya
Dan di mataku kamu lihat ketenangan sementara di luar aku tak mengumbar harapan
Dan di mataku kamu lihat aku tidak biasa meski peranku bukan apa apa

Karena aku hanya cahaya untukku, karena aku takut tersesat sendiri
Karena bukan tidak ingin berbagi hanya tidak ada yang perlu tau
Karena aku manusia yang di tempat tugaskan jadi aku tidak perlu menyulitkan diri mencari posisi tinggi untuk menempatkan diri kembali
Karena di atas tanahlah aku rasa sejatinya aku bisa melihat bumi, merasakan bumi, benar berjalan diatas bumi

Di matamu terlihat kamu
Dan
Kamu, awan.
Apa adanya kamu.
Apa yang ada di dirimu.

Dan meski sama kita berbeda..meski berbeda kita sama.
Jadi, awan, kamu mau membuktikan apa? kepada siapa?
Membuktikan sesuatu kepada manusia itu seperti tidak ada artinya.
Hmm, bener wan?

Mungkin.

Setauku, aku tau kamu juga bukan karena kamu ngapa-ngapa, karena kamu ada makanya aku tau kamu.
Dan, pada akhirnya kamu tetep ga perlu membuktikan apapun ke aku?

Tidak membuktikan sesuatu kepada orang lain itu bukan berarti tidak melakukan sesuatu untuk orang lain.

Iya, melakukan sesuatu untuk orang lain itu ga salah kan? Hanya saja kita ga perlu memaksakan orang itu untuk tau apa yang kita lakukan. Kalau kita membuktikan sesuatu ke orang lain, endingnya cuman dapet apa, pujian, tepuk tangan, dibalas, puas sebentar, bangga, tropi, bahagia, habis itu udah. Yaa, kaya membanggakan orang tua itu memang bagus, tapi ada yang lebih dari itu, bahkan ada yang lebih dari kebahagiaan.

Jiwa Awan_Luna

Awan,

bahkan kamu itu bukan belahan jiwa,

kita ada dalam satu jiwa

itulah mengapa, menangis di depanmu aku sudah tidak bisa

hanya bisa memeluk

agar jiwa tetap bertahan dalam satu, tidak tercecer, tidak terpecah, tidak berpisah

Awan,

Trauma

Biarkan saja rindu ini tersisih,

menjadi jejak yang tercecer dalam rekam kehidupan banyak orang

meski hanya aku yang mengalaminya

karena rindu ini bukan yang seharusnya

salah, karena tidak bisa menjaga hati

salah, karena menitipkan hati bukan pada pendermanya

salah, karena salah sangka,

karena bukan seharusnya hati ini terbawa kemana-mana

tuhan diam saja membiarkanku menari-nari bebas tanpa batas

menari bebas tanpa prioritas sebagaimana yang tercantum dalam mushaf

nyatanya duniaku tak seluas bumi terhampar

tiba dimana saat aku sedang menari, aku menabrak sebuah kaca, bening, tipis

di luar sana manusia menari-nari sepertiku,

penuh ekspresi, tanpa kendali

saat itu aku tertunduk malu, berjalan mundur, terpejam sesaat

rekaman kebodohan kembali terputar, sekilas-sekilas, membawa diri pada episode-episode traumatis

saat aku mulai kembali ingat,

bahwa memang aku tak mampu

bahwa memang aku tak berdaya

dan aku hanya manusia

dan aku lah manusia