Rabu, 19 Februari 2014

Hanya Awan Luna

Awan pernah tidak datang untuk waktu yang lama,
saat itu, bisa kamu bayangkan apa yang bisa di lakukan Luna,
sehari-hari menyempatkan waktu melintas sabana,
meski tau awan tidak di sana, ia tetap ke sana, hanya untuk melihat jejaknya.
Luna tidak tau apakah ia sedih atau gelisah, atau memang ia baik-baik saja,
yang jelas tidak ada perasaan lega, karena tidak ada teman bicara, selain itu semuanya biasa, atau ia membuatnya biasa
ia tetap berusaha mengikat diri, awan pergi, bukan berarti ia tak utuh, ia utuh sejak awal ia mengerti bahwa ia hidup di atas bumi, paling tidak ia berdiri di atas kakinya sendiri dan mengumpulkan serpihan diri sendiri, dan awan tidak pernah mengurangi itu

jadi Luna tetap Luna, manusia tahun 60an yang tidak pernah menjelma menjadi lainnya walaupun tersasar, berada di waktu yang tidak semestinya. Meski waktu bisa jadi ilusi, tapi awan bukan ilusi, dan tidak pernah membawanya pada halusinasi apapun

Jadi begitu, Luna masih disana mengumpulkan serpihan diri seperti biasanya, menemui alam untuk menemukan dirinya,
tapi tetap tidak ada perasaan lega.

"dan biarkan Awan disana tetap menjadi Awan" katanya saat senja menjelang sambil berkemas memasukkan buku ke ransel rajutan, lalu berjalan pulang.

Langit gelap, saat kemudian bintang bermunculan di langit tak berawan, bukan, langit dengan sedikit awan, atau, langit dengan awan yang tak terlihat

Di sebuah pendopo pinggiran kota, Awan di sana, bicara tentang hakikat dunia kepada manusia lainnya, manusia dimasanya.
Sesaat awan diam, jika Luna disana dia mungkin kan berkata, "hei, wan, jangan coba-coba jadi bintang"

"tenang lun, aku dan kamu hanya luna dan awan, bukan bintang" katanya sambil menyisir langit di sekitar, mencari bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar