Luna berteriak di tengah padang
tempat di manan angin dapat mengombak liar tanpa batasan, menelan luapan kemarahan manusia, satu makhluk yang tidak seberapa, dan tidak biasanya.
Memang bukan biasa, tidak seperti biasanya, tidak seperti ia yang hidup ditengah dunia nyata
angannya, ruang imajinasi itu lebih luas dari padang tempat ia berada sekarang
ia menggertak, bicara, berteriak, hanya dalam tulisan
ia mencaci, memaki, menaknai, dalam otak segenggam yang telah sekian puluh tahun melumat dunia
Menulis saja, sampai bengkak jari dan tangannya
Sakit,
Ia menangis tanpa air mata, karena bukan tugasnya menghujani bumi
malam mengenang teman, itu kala juni tanggal 9
Asal Lalu
Minggu, 12 April 2015
Senin, 23 Maret 2015
Menghapus Awan, Waktuku
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Menghapus Awan," katanya sambil mengusapkan penghapus karer di atas kertas.
Awan dalam gambar itu hanya sebuah pulasan putih di kertas putih, jadi bagaimana kamu akan menghapusnya
Aku tidak mengerti, Awan begitu sederhana
hanya sebatas itu
melihat Awan tidak memicu banyak rasa
hanya sebuah ras sederhana yang dalam
Awan mungkin memang putih,
tapi tidak seperti kertas ini, dunia itu sendiri tidak putih
tetapi di sisi lain itu juga tidaak menghilangkan kesederhanaannya
Bagi orang lain Awan akan tampak seperti sebuah siklus
Siklus untuk musim, siklus untuk air, sebuah rumus untuk menentukan harimu
Untukku
Mengingat Awan bisa membuatku terdiam, menerawang, mengingat akan rasa sederhana itu, dan menuliskannya
Sekarang begitu
Tapi sejak dulu Awan bertempat di sisi lain
Sisi lainku yang hanya dikenalnya
Itulah mengapa
Awan sebenarnya sekadar mengenal "ak
sayangnya, hanya dia yang mengenal "aku"
Luna
Pada suatu waktu di masa lalu
Dan jangan pernah terkejut tentang masadi mana aku tinggal
Jangan pernah menyangsikan cara hidupku di 'era yang berbeda' denganmu
"Menghapus Awan," katanya sambil mengusapkan penghapus karer di atas kertas.
Awan dalam gambar itu hanya sebuah pulasan putih di kertas putih, jadi bagaimana kamu akan menghapusnya
Aku tidak mengerti, Awan begitu sederhana
hanya sebatas itu
melihat Awan tidak memicu banyak rasa
hanya sebuah ras sederhana yang dalam
Awan mungkin memang putih,
tapi tidak seperti kertas ini, dunia itu sendiri tidak putih
tetapi di sisi lain itu juga tidaak menghilangkan kesederhanaannya
Bagi orang lain Awan akan tampak seperti sebuah siklus
Siklus untuk musim, siklus untuk air, sebuah rumus untuk menentukan harimu
Untukku
Mengingat Awan bisa membuatku terdiam, menerawang, mengingat akan rasa sederhana itu, dan menuliskannya
Sekarang begitu
Tapi sejak dulu Awan bertempat di sisi lain
Sisi lainku yang hanya dikenalnya
Itulah mengapa
Awan sebenarnya sekadar mengenal "ak
sayangnya, hanya dia yang mengenal "aku"
Luna
Pada suatu waktu di masa lalu
Dan jangan pernah terkejut tentang masadi mana aku tinggal
Jangan pernah menyangsikan cara hidupku di 'era yang berbeda' denganmu
Jumat, 09 Januari 2015
tentang waktu yang belum selesai
Waktu tidak pernah melamban,
Waktu tidak pernah berhenti,
Waktu tidak pernah habis,
Waktu tidak pernah peduli,
Entah apakah waktu benar-benar berlalu
Dan siapa yang benar-benar tau bahwa waktu tidak pernah begitu, atau tentang lalunya waktu
Waktu adalah sebuah ketidakpedulian yang sangat kita pedulikan dan membuat kita menjadi peduli dan semakin peduli, bukan, atau, benarkah begitu?
Waktu seperti rekaan yang digunakan manusia untuk menyebutkan kapan dimana, waktu adalah rekaan manusia untuk meninggalkan jejak dan diingat, waktu adalah rekaan manusia untuk mempertahankan diri, waktu adalah memori, bentuk pemikiran, untuk meninggalkan pemikiran dan membuat manusia berani berpikir, masa.
Lalu apa, biarkan saja.
Waktu tidak pernah berhenti,
Waktu tidak pernah habis,
Waktu tidak pernah peduli,
Entah apakah waktu benar-benar berlalu
Dan siapa yang benar-benar tau bahwa waktu tidak pernah begitu, atau tentang lalunya waktu
Waktu adalah sebuah ketidakpedulian yang sangat kita pedulikan dan membuat kita menjadi peduli dan semakin peduli, bukan, atau, benarkah begitu?
Waktu seperti rekaan yang digunakan manusia untuk menyebutkan kapan dimana, waktu adalah rekaan manusia untuk meninggalkan jejak dan diingat, waktu adalah rekaan manusia untuk mempertahankan diri, waktu adalah memori, bentuk pemikiran, untuk meninggalkan pemikiran dan membuat manusia berani berpikir, masa.
Lalu apa, biarkan saja.
Kamis, 20 November 2014
televisi
Terlalu jauh, seperti menonton televisi, aku melihatmu begitu jelas dan dekat, tapi sebenarnya kamu berada di ruang dan waktu yang jauh berbeda denganku.
Aku tidak suka televisi!
Aku tidak suka televisi!
Jumat, 26 September 2014
Jumat, 12 September 2014
Meng-aku
Aku dan bicaraku..
Aku dan bicara dalam diamku..
Aku dan teriak serampanganku
Aku dan kesadaranku akan kosong di tengah sekian tawa tak berarti yang lalu
Aku yang..tidak ingin diganggu saat itu untuk palsu
Aku yang meng-aku
Aku yang menikmati tenang
Aku dan bicara dalam diamku..
Aku dan teriak serampanganku
Aku dan kesadaranku akan kosong di tengah sekian tawa tak berarti yang lalu
Aku yang..tidak ingin diganggu saat itu untuk palsu
Aku yang meng-aku
Aku yang menikmati tenang
Kamis, 21 Agustus 2014
Taman Antah Berantah
10 menit lagi,
mereka harus pergi dari taman antah berantah ini, setidaknya hanya itu waktu
yang disisakan oleh Kame jika menggunakan mesin waktunya. Waktu yang terbatas
membuat mereka hanya dapat menggunakan mesin waktu itu untuk berwisata,
memenuhi kebutuhan spiritual di tempat sepi, hanya mereka dan hamparan
kehidupan alam tanpa prasangka manusia, menyatukan diri mereka yang berantakan
di taman antah berantah yang steril dari polusi semesta, entah mereka tengah di
planet mana, atau di waktu yang mana, tapi permukaan langit masih sama seperti
yang tertampakkan di bumi selatan.
"kenapa aku
pikir waktuku masih banyak?"
"mungkin
karena kamu bisa melompat-lompat dari satu abad ke abad lainnya."
Luna malah
tersenyum mendengar jawaban Awan.
Ini waktunya, Awan hanya
mengamati saat Luna mulai menekan kedua kepalanya dengan jemari, lalu mulai
menangis menitkkan air mata, Awan, masih melihat dengan sepenuhnya jiwa yang
mulai terbawa, matanya menyorot dalam, kedalam diri, kedalam keteduhan, seperti
melihat air yang jernih seiring air mata yang mulai menetes dari pelupuk mata
Luna, basah.
Langganan:
Postingan (Atom)