Minggu, 12 April 2015

Satu makhluk di suatu waktu

Luna berteriak di tengah padang
tempat di manan angin dapat mengombak liar tanpa batasan, menelan luapan kemarahan manusia, satu makhluk yang tidak seberapa, dan tidak biasanya.

Memang bukan biasa, tidak seperti biasanya, tidak seperti ia yang hidup ditengah dunia nyata
angannya, ruang imajinasi itu lebih luas dari padang tempat ia berada sekarang
ia menggertak, bicara, berteriak, hanya dalam tulisan
ia mencaci, memaki, menaknai, dalam otak segenggam yang telah sekian puluh tahun melumat dunia
Menulis saja, sampai bengkak jari dan tangannya
Sakit,
Ia menangis tanpa air mata, karena bukan tugasnya menghujani bumi

malam mengenang teman, itu kala juni tanggal 9

Senin, 23 Maret 2015

Menghapus Awan, Waktuku

"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Menghapus Awan," katanya sambil mengusapkan penghapus karer di atas kertas.

Awan dalam gambar itu hanya sebuah pulasan putih di kertas putih, jadi bagaimana kamu akan menghapusnya
Aku tidak mengerti, Awan begitu sederhana
hanya sebatas itu
melihat Awan tidak memicu banyak rasa
hanya sebuah ras sederhana yang dalam

Awan mungkin memang putih,
tapi tidak seperti kertas ini, dunia itu sendiri tidak putih
tetapi di sisi lain itu juga tidaak menghilangkan kesederhanaannya

Bagi orang lain Awan akan tampak seperti sebuah siklus
Siklus untuk musim, siklus untuk air, sebuah rumus untuk menentukan harimu

Untukku
Mengingat Awan bisa membuatku terdiam, menerawang, mengingat akan rasa sederhana itu, dan menuliskannya
Sekarang begitu
Tapi sejak dulu Awan bertempat di sisi lain
Sisi lainku yang hanya dikenalnya
Itulah mengapa
Awan sebenarnya sekadar mengenal "ak
sayangnya, hanya dia yang mengenal "aku"

Luna
Pada suatu waktu di masa lalu

Dan jangan pernah terkejut tentang masadi mana aku tinggal
Jangan pernah menyangsikan cara hidupku di 'era yang berbeda' denganmu

Jumat, 09 Januari 2015

tentang waktu yang belum selesai

Waktu tidak pernah melamban,
Waktu tidak pernah berhenti,
Waktu tidak pernah habis,
Waktu tidak pernah peduli,
Entah apakah waktu benar-benar berlalu
Dan siapa yang benar-benar tau bahwa waktu tidak pernah begitu, atau tentang lalunya waktu
Waktu adalah sebuah ketidakpedulian yang sangat kita pedulikan dan membuat kita menjadi peduli dan semakin peduli, bukan, atau, benarkah begitu?
Waktu seperti rekaan yang digunakan manusia untuk menyebutkan kapan dimana, waktu adalah rekaan manusia untuk meninggalkan jejak dan diingat, waktu adalah rekaan manusia untuk mempertahankan diri, waktu adalah memori, bentuk pemikiran, untuk meninggalkan pemikiran dan membuat manusia berani berpikir, masa.
Lalu apa, biarkan saja.

Kamis, 20 November 2014

televisi

Terlalu jauh, seperti menonton televisi, aku melihatmu begitu jelas dan dekat, tapi sebenarnya kamu berada di ruang dan waktu yang jauh berbeda denganku.
Aku tidak suka televisi!

Jumat, 26 September 2014

Berapa banyak orang yang mengerti tentang bagaimana cara bulan berotasi

Berapa banyak orang yang yang bisa melihat sisi lain bulan selain yang terlihat dari bumi

Jumat, 12 September 2014

Meng-aku

Aku dan bicaraku..

Aku dan bicara dalam diamku..
Aku dan teriak serampanganku
Aku dan kesadaranku akan kosong di tengah sekian tawa tak berarti yang lalu
Aku yang..tidak ingin diganggu saat itu untuk palsu

Aku yang meng-aku
Aku yang menikmati tenang

Kamis, 21 Agustus 2014

Taman Antah Berantah


10 menit lagi, mereka harus pergi dari taman antah berantah ini, setidaknya hanya itu waktu yang disisakan oleh Kame jika menggunakan mesin waktunya. Waktu yang terbatas membuat mereka hanya dapat menggunakan mesin waktu itu untuk berwisata, memenuhi kebutuhan spiritual di tempat sepi, hanya mereka dan hamparan kehidupan alam tanpa prasangka manusia, menyatukan diri mereka yang berantakan di taman antah berantah yang steril dari polusi semesta, entah mereka tengah di planet mana, atau di waktu yang mana, tapi permukaan langit masih sama seperti yang tertampakkan di bumi selatan.

"kenapa aku pikir waktuku masih banyak?"
"mungkin karena kamu bisa melompat-lompat dari satu abad ke abad lainnya."

Luna malah tersenyum mendengar jawaban Awan.

Ini waktunya, Awan hanya mengamati saat Luna mulai menekan kedua kepalanya dengan jemari, lalu mulai menangis menitkkan air mata, Awan, masih melihat dengan sepenuhnya jiwa yang mulai terbawa, matanya menyorot dalam, kedalam diri, kedalam keteduhan, seperti melihat air yang jernih seiring air mata yang mulai menetes dari pelupuk mata Luna, basah.