Gadis itu tengah melenggangkan sampai kemudian duduk menghadap pianonya, oskar, di tengah panggung dengan sorot lampu yang hanya miliknya, seeakan itu sinar purnama, dan ia yang satu-satunya di dunia.
Acuh, emosional, ia menggerakkan jemarinya, menyampaikan apa yang ingin disampaikan hati, bukan pada siapa, atau pada apa, entah ia buang saja. Jarinya lentik bergerak bukan dari asal energi serampangan, ia menata semua nada, tapi orang ini tidak tampak kesulitan mengimaji suatu melodi. Sepanjang alunan partitur yang dimainkan hanya terlihat seperti sebuah gambaran hidup manusiawi yang terkaji. Terkadang melodi itu terdengar marah, sedih, tertahan, atau terkadang justru terdengar seperti sebuah orasi, diamnya pun jadi bagian irama.
Wanita dengan wajah polos tanpa poles itu tampak cantik di tengah sendu setting panggung yang kacau. Seperti yang ku amati dari jiwanya, suci ditengah dunia yang fana. Duniaku, dimana aku melihatnya berpijak juga di atas tanah yang lalu ku tapaki juga, tapi entah apa ia memang hidup bersamaku atau tidak. Ia hidup bersama benda yang dianggaap orang mati, lihat itu pianonya yang ia beri nama oskar. Di suatu aula kala itu aku melihatnya menyandar kepala di atas tuts pianonya sambil berkeluh kesah, seperti anak kecil tengah merajuk dipangkuan ibu. Peron si kamera retro yang selalu diajaknya bertamasya bersama Monica sepeda mini. Dan yang terakhir ku tau adalah Caroline, buku catatan yang pernah dikenalkan kepadaku, yang waktu itu aku temukan di bawah pohon beringin dekat alun-alun.
Entah, dia jengah dengan dunia lantas membangun dunia sendiri bersama benda matinya, atau ia memang dibutakan tuhan dengan hingar bingar rusuh manusia di dunia. Oleh ratusan manusia disini ia hanya dikenal sebagai bidadari indie. Aku melihatnya seperti air mengucur, angin berhembus, hujan yang turun, pohon yang tumbuh, matahari yang bersinar, alami tanpa sengaja mengungguli tapi jadi kebutuhan pokok bumi, bumiku. Sayangnya hanya dia berjasad, dia manusia, dan dia cantik.
Aku mencintainya seperti awam menganggumi lukisan absurd, tak tau apa apa hanya tau suka. Aku mencintainya seperti hamba bersyukur atas udara. Aku mencintainya tanpa ingin menyentuh atau mengotorinya. Aku mencintainya hanya dengan melihatnya baik-baik saja. Dan aku hanya duduk mengamati dari sisi gelap bangku penonton, yang saat ini mungkin sedang tak dianggapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar