Minggu, 13 April 2014

Serangan Psikis dan Pingsan

Ini terapi kedua,
Aku pikir mind terapi kali ini akan sulit mencapi kata kondusif karena dilakukan di ruang terbuka dengan jumlah siswa yang cukup banyak. Bisa dibilang tidak cukup memadai.
Beberapa siswa justru sedang sakit, ada dua orang yang baru saja kecelakaan. yang satu jari-jarinya di perban, yang satu kakinya bermasalah entah kenapa, tidak terlihat karena ia memakai rok panjang.

Lagi. Biasanya peserta terapi adalah anak kelas 3 yang hendak menghadapi UN, tapi ini justru anak kelas 1. Terapis sempat bertanya-tanya, untuk apa anak-anak kelas 1 diberi terapi. Benar juga menurutku, karena menurutku terapi ini sifatnya jangka pendek, jika ingin modifikasi perilaku jauh lebih efektif jika dilakukan secara berkala dan dalam waktu yang cukup panjang. Jadi, terapi ini umumnya bertujuan agar mereka lebih bersemangat belajar, dengan memasukkan sugesti bahwa mereka tidak boleh menyia-nyiakan jasa orang tua yang sudah susah payah menyekolahkan mereka.
Maka biasanya dilakukan menjelang UN.

Jadi, terapi tetap dilakukan, arahnya menjadi pemicu semangat belajar, agar mereka dapat berprestasi menjelang hari-hari berikutnya. Yah, pikirku, mungkin tidak akan seefektif harapannya.

Selama motivasi diberikan, beberapa siswi mulai menangis, siswa lainnya ada yang saling menggoda.
dan pada saat terapi, mereka sudah pasti menangis semua, tidak laki-laki atau pun perempuan. Aku sering mengamati siswa yang sakit, merasa miris, takut sesuatu terjadi pada mereka, dan juga merasa miris atas kesakitan mereka sendiri selagi mereka berbaring dan menangis di lantai

Semua baik-baik saja, aku mulai punya kebiasaan, mengamati wajah emosional mereka satu persatu, membatin 'inikah wajah asli kalian, emosi kalian yang tersimpan', sambil memastikan tidak ada yang histeris.

Semua yang dibawah pengawasanku baik-baik saja, tapi ternyata saat di akhir ada seorang anak yang tidak juga sadar. Entah, matanya menerawang, berkedip pun tidak, merah. Dia bahkan tidak sanggup berdiri. Aku melakukan beberapa upaya menyadarkan, tapi sepertinya tidak bisa, beberapa orang lain juga mencoba, tapi tiak bisa. Ternyata ada masalah psikis, mungkin, seorang senior membisikkan beberapa kata di telinganya, dan pandangan matanya mulai berubah. Ia sepertinya sudah mulai 'melihat', dan seketika bisa menopang tubuhnya sendiri.
hm, rupanya aku masih ada 'di luar'
belum bisa masuk ke dalam mereka.
Apapun ini, mereka menerimanya lebih dari sekedar terapi motivasi, ada serangan-serangan psikis yang harus mereka hadapi dalam ketidak berdayaan mereka.

Selama ini aku hanya belajar mengamati, menebak, rupanya tidak benar-benar empati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar