Pagi hari menapakkan kaki di bumi, mengamati jejak manusia semalam dan malam-malam yang lalu, tapi jejakmu saat bersamaku semalam tak ada di sana, siapa yang menghapusnya?
Seseorang tengah mencoba melupakan, menghapus, untuk membunuhku yang tinggal di dirinya dalam sepersekian waktu hidupnya, aku tak pernah pergi, belum pernah mati, tapi bagimu aku bisa hilang begitu saja?
Diam pada pagi, saat venus masih menemani putri bulan yang menyabit diangkasa biru muda, awan putih saling susul di timur, matahari mengguyur sinar menghapus cahaya-cahaya mereka, yang mulai meredup, tapi masih cantik karena kilau sederhana dan semampunya itu justru terlihat seperti berlian, mahal. Tapi kemudian hilang.
Matahari selalu tau bulan ada di sana meskti tak bisa melihatnya, begitu pun venus, dan awan tetap menggeliat bebas di kala langit malam nan hitam menutup putihnya.
Sebeneranya mereka hanya saling mewakili demi tetap menghidupi bumi atas titah sang kuasa,tidak pernah saling membenci, tidak pernah saling iri, tidak pernah saling menghabisi. Hanya sesederhana itu, untuk selama waktu hidupnya.
Dan, kau?
Dan, kau?
26.4.1964
Vint.
NB : aku masih tinggal
Teman, bagaimana rasanya mati?
BalasHapusItulah kesimpulanku pada keadaanmu. Setelah melihatmu, pertama kali menginjak pelaminan, 'kau sudah mati', fikirku. Jelas itu nyata di depan mataku. Tatapan matamu, yang memang sudah biasa terlihat kosong, kini bergairah menatap kehidupan baru, yang sedikit kau lalui dengan rasa malu dan kebingungan. Aku senang mendengar kabar kematianmu itu. Karena toh, siapa yang tahan dengan hidup tiada warna seperti itu?
Maafkan daku. Memang kejam jika saya harus menyebutmu sudah mati. Seseorang yang masih menyukaimu bilang padaku bahwa aku tidak adil, kamu tetaplah kamu. Bagaimanapun keadaanmu, bagaimanapun perubahanmu, kamu tetap hidup. Melihat siasatmu setelah pelaminan itu, yang menjaga jarak dengan teman-teman masa lalu. Tidak aktif di grup WA, maupun mengganti nomer hape, maka saya bisa utarakan bahwa kamu memang membunuh sebagian dirimu. Entah, itu memang harga yang ditanggung untuk mencapai taraf kehidupanmu sekarang ini, ataukah ada hal lain?
Tapi entah kenapa, saya lebih tidak ikhlas dari pada dia yang menyukaimu itu. Kamu, beberapa kali menjadi milikku, dan itu memang keahlianmu sebagai wanita –kau harus akui itu. Tapi sungguh, saya tidak ingin memilikimu seluruhnya. Pertemanan, jika dibahasakan, memang terdengar menggelikan. Seperti sebuah percintaan level rendah. Akan tetapi, marilah kita bahasakan dengan jelas bahwa, memang cinta menjadi sumber kehidupan. Bagaimanapun tarafnya, bagaimanapun keadaannya, cinta memang sebuah energi yang tidak bisa dipungkiri. Aku, sekarang, dalam tulisan ini, ingin mendatangimu secara dewasa. Dengan cinta yang selayaknya tanpa patut kau tabukan.
Ingatkah pada perkataanmu sebelum kau melaju ke pelaminan tentang 'rasa aman'? Kini, aku datang dengan sebuah pertanyaan, apakah aku yang justru berlindung pada 'rasa aman'?
Seperti syair, novel, maupun cerita-cerita pendek yang terkenal dalam kalangan sastra dunia, kematian adalah modal utamanya. Kematian, akan selalu menjadi bahan mentah berharga setara emas dalam novel-novel eksistensialis. Entah itu kematian tubuh ataupun kematian cita-cita dan harapan. Prosesi mereka saat berjalan menuju kematian dan melangkahinya, ialah harga yang sangat mahal dalam karya-karya itu.
Maka, haruskah aku mati dalam kehidupan ini? Haruskah aku melangkah sepertimu dan menjemput hidup baru yang tiada diketahui?
Selama ini, saya mendamba fikiran saya. Kuusung tinggi makna yang selama ini bisa kuraih, dan tak mau sedikitpun aku melepaskan genggaman tanganku darinya. Ia menjadi sebuah simbol. Jika ia masih kupegang, maka aku hidup. Jika ia tidak kupegang, maka aku tidak hidup. Aku mempermainkan diriku sendiri dalam metafora yang tak jelas akarnya. Memang, terdengar menggelikan, tapi bukankah ini yang namanya hidup?
Maka, teman, aku ingin kau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu. Aku ingin kau berbagi denganku. Anggaplah aku sebuah person tak nyata. Kita tidak akan bertemu. Pertemuan kita mungkin menggangu. Tapi, aku sombong dan tinggi hati, lihatlah, aku yang mendatangimu dengan tulisan ini. Aku masih ingin bicara denganmu, untuk niatan yang kuduga akan berbuah sebuah kebaikan, yang padahal bisa jadi keburukan. Aku serahkan semuanya kepadamu. Semoga kau masih mau berbaik hati pada person ini.