"Hei, wan"
"Ha" sahut awan ringan.
"Liat anak yang duduk di sungai seberang"
Awan melihat anak laki-laki yang duduk cukup jauh sambil mengernyitkan dahi.
"dia dari tadi ngeliatin kita" kata Luna melanjutkan
"merhatiin juga km?" kata Awan menoleh, Luna pun menoleh melihat ke arahnya.
Luna diam, berpikir kenapa dia perlu peduli pada anak itu, lalu menjawab
"iya lah, dia duduk sendirian di situ, ga ada yang lain kan selain kita, sama dia, aneh."
Luna kembali menengok ke anak lelaki di seberang, dilihat berkali-kali anak itu tak bergeming, semakin aneh.
"iya, aku juga merhatiin," Awan mengubah posisi duduknya, bersila dan sedikit membungkuk, masih menggenggam ilalang kering.
Luna melirik Awan, berdecak kesal.
"biarin aja dia nikmatin kita" sahut Awan tidak peduli, tapi peduli.
Ya begitu cara Awan peduli, membiarkan orang lain belajar sendiri, agar mereka lebih mengenal diri mereka sendiri. Luna melihat Awan sambil senyum-senyum sendiri.
Luna kembali melihat anak lelaki di seberang, lalu berdiri, kemudian mengibas-ngibas roknya yang kotor dengan tangan.
"Mungkin dia pengen temanan sama kita."
Mata Awan mengikuti gerakan Luna, "terus?"
"disamperin?" kata Luna setengah bertanya kepada Awan
"Hm, oke.." suara Awan terkesan sabar dalam tarikan nafas panjang. Luna tersenyum senang.
Tetapi Luna diam saat Awan mulai melangkah, Awan membalik badannya, dengan gerakan khas menyangku tangan ke saku celana. Tidak bicara, hanya bertanya lewat tatapan mata "kenapa belum jalan juga, Luna?"
"Jika aku ingin mengenal orang itu, tujuannya adalah agar aku bisa mengenalkanmu padanya, biar dia tau, teman sepertimu itu ada,"
Awan diam "udah tau, jalan!"
Lelaki di seberang yang melihat Luna dan Awan menghampiri segera berdiri dan tersenyum.
sekarang aku tau...
BalasHapusAutis itu bermuara dimana,,
hahahaha
rajin2 nulis ya,,ku bakal jadi pembaca setia blogmu
Kami penjaga langit yg bermuara d bumi
BalasHapus